Selasa, 26 Maret 2013

Kenali Sejak Dini, Kelainan Kaki Buah Hati



SORE itu suasana di Kids Foot Rahabilitation Center, RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara ramai aktivitas anak yang tengah menjalani terapi. Tobias, 4 tahun, misalnya, asyik menggambar untuk mengalihkan perhatian, saat kakinya mendapat terapi getar.

Lina sang Bunda, setia menunggu. Dua kali dalam seminggu dia menemani putranya melakukan terapi.  Di rumah dilanjutkan sesuai petunjuk dokter, termasuk penggunaan sepatu khusus saat tidur dan penggunaan sol khusus minimal 6 jam dalam satu hari. “Telapak kaki Tobias bentuknya flat, tidak ada cekungan, sehingga menyulitkan dia saat berjalan. Sekarang sudah mulai membentuk,” tutur Lina yang baru bisa mendapat giliran terapi saat usia anaknya 2,5 tahun.
Pasien di Kid’s Foot Rehabilitation Center memang luar biasa banyak. Daftar tunggu pemeriksaan dan terapi pun sudah sampai 2015. Dr Meidy H Triangto SpRM tidak menyangka pasiennya akan begitu banyak. Saat praktek, dia menyediakan hampir satu hari waktunya, dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Apa saja sebenarnya yang perlu diketahui dan diwaspadai orangtua seputar tumbuh kembang kaki? Berikut cuplikan tanya jawab dengan Dr Meidy H Triangto SpRM.


Apa Sebenarnya yang dimaksud dengan kelainan pada kaki?
Kelainan pada kaki itu mencakup telapak kaki. Gangguan lainnya terjadi pada tungkai hingga lutut. Jenis kelainan yang dialami bisa beraneka macam, pada umumnya terjadi karena pergeseran sumbu atau rotasi tulang yang salah. Misalnya pergeseran tempurung lutut, hingga saat kaki dirapatkan, cenderung bergeser ke luar, berlainan arah atau justru cenderung ke dalam bertemu.
Secara garis besar, apa saja jenis kelainan yang bisa terjadi?
Ada banyak macam. Di antaranya telapak kaki flat, lengkung kaki terlalu tinggi (high arch), saat berjalan jari kaki mengarah ke dalam (toe in) atau mengarah keluar (toe out), gangguan pada tungkai kaki berbentuk X atau justru O, dan sebagainya.
Apa penyebab dari kelainan-kelainan tersebut?
Penyebabnya beraneka ragam. Faktor internal menyangkut genetika. Tapi bisa juga dipicu faktor eksternal seperti salah pakai sepatu hingga menyebabkan telapak kaki flat, cara gendong, pemakaian popok modern sekali pakai yang terlalu sering dan tidak sesuai ukuran, cara tidur yang salah misalnya terlalu sering menidurkan anak dengan posisi telungkup seperti gaya katak, cara duduk yang cenderung ditekuk membentuk huruf W hingga penggunaan baby walker. Untuk penggunaan baby walker, saya tidak anjurkan sampai anak benar-benar sudah bisa berdiri, biasanya sekitar usia satu tahun, sudah kuat menyangga seluruh tubuh. Jika belum, kemungkinan besar bisa berpengaruh pada pertumbuhan kaki.
Bagaimana orangtua bisa tahu ada kelainan kaki pada anaknya?
Perhatikan cara jalannya. Ada yang cenderung jinjit meski sudah lewat usia dua tahun. Ada juga ketika berjalan seringkali jatuh. Perhatikan juga bentuk telapak kaki, mata kaki, tungkai, dan lutut.
Tapi satu hal yang perlu diketahui, pertumbuhan kaki bayi itu berubah-ubah hingga usia sekitar 6-7 tahun. Saat bayi telapak kaki cenderung flat karena masih diapisi lemak dan belum digunakan untuk berjalan. Secara perlahan sekitar usia 1,5 sampai 2 tahun mulai terbentuk lengkungan. Selain itu, hingga usia 18 bulan ada kecenderungan sudut lutut pada bayi melengkung atau disebut (bowleg). Setelah 18 bulan mulai berubah dengan kecenderungan huruf X. Perubahan-perubahan seperti ini terjadi hingga usia 6-7 tahun. Tapi tentu perubahan yang dimaksud masih dalam sudut derajat pergeseran tungkai dan lutut yang normal.
Bagaimana orangtua bisa tahu normal atau tidak?
Orangtua mesti memperhatikan baik-baik, apakah ada kelainan bentuk pada kaki anaknya? Apakah anak sering jatuh padahal usia anak sudah 3 tahun? Apakah ada kecenderung terus lari (hiperaktif) tidak bisa jalan pelan? Atau bahkan mengeluh nyeri, kaki cepat lelah saat melakukan aktivitas? Semua itu bisa jadi pertanda adanya kelainan bentuk kaki.
Jika memang terlihat ada kelainan, segera bawa ke dokter. Di Kids Fot, saya biasanya melakukan beberapa tahap pemeriksaan statik dan dinamik. Pemerinsaan foot print dilakukan dengan cara meihat cara jalan anak. Kemudian dilakukan pemeriksaan statis, diukur panjang kaki dan sudut putaran lutut. Setelah itu dilakukan tindakan sesuai kondisi. Misalnya memakai sepatu dengan sol khusus, sepatu khusus untuk tidur, dan tentu terapi.
Kapan waktu yang tepat untuk memulihkan kelainan pada kaki?
Usia di bawah lima tahun adalah waktu yang tepat. Di bawah usia itu, kaki masih bisa dibetulkan dengan sempurna. Di atas usia 5 tahun, masih bisa diterapi, tapi hasilnya tidak bisa sesempurna seperti saat dilakukan di bawah usia 5 tahun.
Tadi disinggung soal kesalahan memilih sepatu. Sepatu seperti apa yang baik untuk anak?
Saat anak merangkak sebaiknya orangtua memilih sepatu yang solnya lentur dan bagian punggung kaki tidak banyak pernik. Sebab, ketika merangkak bagian punggung kaki akan menghadap ke bawah.
Saat anak mulai berjalan merambat, jangan memilih sepatu sandal. Saya selalu anjurkan untuk memilih jenis sepatu tertutup, dan terbaik adalah sepatu olahraga, karena ada penyangga bagian samping kaki sehingga membantu proses pembentukan.
Seringkali ada pendapat, saat anak mulai berjalan sebaiknya tidak usah memakai sepatu alias bertelanjang kaki atau nyeker. Ini salah. Kita kembalikan guna sepatu, yaitu untuk melindungi kaki dan membantu proses pembentukan. Mungkin pada awalnya anak kita jadi lebih susah berjalan atau lebih lambat karena perlu penyesuaian, tapi cara ini baik untuk pembentukan kaki..
DR Meidy H Triangto
 Dr Meidy H Triangto merupakan pribadi unik dan sederhana. Saat praktek enggan menggunakan jas putih khas dokter, dengan alasan supaya anak-anak merasa lebih nyaman.
Sebelum lulus kedokteran, sempat ikut kuliah teknik sipil karena senang dengan cara kerja ukur-mengukur. Tapi akhirnya pada 1986 lulus sebagai dokter umum dari Universitas Indonesia. Dr Meidy menjalani praktek kerja di Ambon dan di RS Carolus Jakarta. Dia mendapat beasiswa ke Filipina, tapi tidak diselesaikan karena hamil. Dr Meidy memutuskan kembali ke Universitas Indonesia mengambil Spesialis Rehabilitasi Medik atau sekarang disebut Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik.
Di sinilah dia melakukan penelitian tentang kelainan pada kaki dan menyodorkan rumusan teori penghitungan rotasi lutut, pengukuran jarak kaki, dsb. Hobi ukur-mengukur yang dulu sempat menjadi pertimbangan mengambil jurusan teknik sipil pun terpenuhi.
Pada tahun 2000, Dr Meidy mulai melakukan praktek dan memilih konsisten di jalur rehabilitasi kaki sesuai dengan penelitian yang dia lakukan, meski gelar SpRM pada dasarnya melingkupi semua jenis rehabilitasi.
Awalnya sempat praktek di beberapa rumah sakit, tapi akhirnya memilih konsentrasi di Kids Foot Rehabilitation Center, RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Alasannya sederhana saja, dekat dengan rumah, sehingga waktu yang terbuang diperjalanan bisa digunakan lebih maksimal untuk pasien.

sumber : sangbuahhati.com

Awas Anak Kecanduan Games



KEMAJUAN teknologi membuat fasilitas bermain kian beragam. Mulai dari yang berbasis gadget seperti game online, hingga Play Station, wii, dll. Hal ini tentunya membawa hal positif dan juga negatif. Di satu sisi, alternatif permainan untuk anak  menjadi semakin beragam, di sisi lain ada ancaman kecanduan games. Apa yang harus diwaspadai dan diperhatikan orangtua?

1. Ayah/Bunda perlu mencermati frekuensi bermain yang biasa dilakukan anak. Perhatikan apakah waktu bermainnya sudah mengalahkan berbagai aktivitas lain? 
2. Pastikan bahwa anak memiliki batasan waktu bermain yang jelas. Tidak ada salahnya ayah/bunda juga mengenal permainan yang sering dimainkan dan sesekali bermain bersama. 
3.  Waspadalah saat anak mulai terpaku pada games yang disukainya sehingga mengganggu aktivitas lain. Aturan yang tegas mengenai toleransi waktu bermain perlu diterapkan. Konsekuensi yang tegas juga dapat diterapkan, misalnya saat anak melanggar kesepakatan waktu bermain, maka ayah/bunda akan menarik mainannya selama waktu tertentu. Konsekuensi penerapan aturan bukan hanya dilakukan dengan menarik mainan selama waktu tertentu, tetapi juga tidak menggunakan mainan tersebut sekalipun untuk orang lain.  
4. Ayah/Bunda sebaiknya dapat memberikan variasi permainan atau alihkan pada kegiatan lain. Berikan alternatif permainan yang melibatkan fisik ataupun mengasah kemampuan lainnya. Pada anak yang lebih kecil, hal ini juga dapat melatih kemampuan motorik dan menyalurkan energi berlebih. Ayah/bunda juga dapat menyertakan anak pada klub peminatan atau perkumpulan hobi lainnya untuk menyalurkan bakat dan minat anak, misalnya melukis, olahraga, dan sebagainya.

sumber : sangbuahhati.com

Bolehkah Penderita Hipertensi & DM Hamil?


Hipertensi dan diabetes militus yang diderita calon ibu bisa menyebabkan kelainan bawaan pada janin. Apa saja langkah-langkah yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk meminimalisasi risiko?


DIABETES militus (DM) dan hipertensi merupakan salah satu penyulit medik yang dapat terjadi sebelum dan selama kehamilan. Angka kejadian DM menurut Dr Mufti Yunus SpOG dari RS Omni Alam Sutera, Tangerang berkisar di persentase 3%-5% dari semua kehamilan. Sedangkan insiden hipertensi kira kira 5% dengan variasi yang luas.
Diabetes Militus
Secara garis besar DM dalam kehamilan bisa dibedakan dalam dua kategori. Pertama diabetes gestasi (ditemukannya pada waktu hamil dengan persentase 90%) dan kedua diabetes pragestasi yang meliputi tipe 1 dan 2 dengan persentase kasus kurang lebih 10%.
Dr Mufti menyebutkan, tingginya gula darah pada ibu berkolersi langsung dengan peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal. Perlu dipahami, risiko yang terjadi pada ibu hamil dengan DM berkaitan dengan keadaan di mana glukosa melewati plasenta dengan cara difusi, sehingga hiperglikema pada ibu akan berakibat hiperglikema pada janin.
Dampaknya bisa berupa pertumbuhan janin yang besar makrosomia, hingga meningkatkan risiko kelambatan maturasi paru, sehingga meningkat pula risiko Respiratory Distress Syndrome (darurat medis yang dipicu gangguan atau kerusakan paru). Hiperglikema juga memunculkan risiko keguguran pada trimester pertama, kelainan bawaan seperti jantung, susunan saraf pusat, dan bisa menyebabkan kematian janin di dalam rahim.
Hipertensi
Seperti halnya DM, hipertensi juga memunculkan risiko tinggi bagi keselamatan ibu dan janin. Hipertensi yang diderita sebelum kehamilan bisa menjadi semakin parah saat kehamilan. Biasanya kondisi seperti itu terjadi pada nulipara (perempuan melahirkan, tetapi anaknya selalu meninggal ketika lahir) dan perempuan yang hamil di usia yang masuk dalam kategori risiko tinggi.
“Kehamilan berisiko tinggi terjadi pada perempuan yang hamil di atas usia 40 tahun. Bertambahnya usia akan meningkatkan hipertensi dan akan diperberat dengan kondisi kehamilan. Perempuan berusia lebih dari 40 tahun mempunyai risiko 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan wanita hamil usia 20 sampai 30 tahun,” papar Dr Mufti.
Dr Mufti menjelaskan, pada dasarnya ada beberapa jenis hipertensi yang muncul saat kehamilan. Preeklampsia (hipertensi yang muncul saat kehamilan) dan eklampsia (preeklampsia disertai kejang) hanyalah dua dari sekian banyak kategori hipertensi yang sering terjadi. Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi tersebut bisa mengancam keselamatan ibu serta janin.
Hipertensi, terang Dr Mufti, bisa menghambat pertumbuhan janin, menyebabkan kelahiran prematur, bahkan bisa berakhir pada kematian janin. Sedangkan pada ibu bisa memunculkan multiple fungsi organ failure atau gangguan yang bisa menyerang ginjal , hepar , jantung, sehingga bisa berakibat fatal bagi keselamatan ibu.
Lalu, bagaimana solusi meminimalisasi risko hipertensi dan DM saat kehamilan? Dr Mufti menegaskan, perencanaan dan pemeriksaan sebelum kehamilan akan sangat membantu. Jika sudah terlanjur hamil, tidak ada jalan lain selain segera memeriksakan kehamilan agar dokter bisa mengambil langkah-langkah medis yang diperlukan. Jangan lalai bunda!

 Foto: www.dlife.com

Jenis Hipertensi Saat Kehamilan
Pada dasarnya ada beberapa jenis hipertensi yang bisa terjadi saat kehamilan.
1.       Preeklampsia: hipertensi yang muncul pada usia kehamilan lebih dari trimester II yang ditandai dengan 
       meningkatnya tensi darah di atas 140/90 mmHg, dan protein urin lebih dari 300 mg/24 jam
2.       Eklampsia: preeklampsia yang disertai dengan kejang
3.       Hipertensi Gestasional: hipertensi yang muncul pada waktu hamil saja , tidak disertai peningkatan protein
       urin. Tekanan darah akan turun kembali kurang lebih 12 minggu setelah melahirkan.
4.       Hipertensi kronis: sebelum kehamilan tekanan darah sudah tinggi di atas 140/90 mmHg , dan setelah
       melahirkan lebih dari 12 minggu tensinya tetap tinggi.
5.       Superimpossed Preeklampsia: sebelum hamil tekanan darah sudah tinggi dan pada usia diatas trimester 
       II ditemukan protein urin yang lebih dari> 300 mg/ 24 jam.
Apa yang Harus Diperhatikan?
1. Bagi ibu yang sudah menderita DM dan hipertensi sebelum kehamilan, sebaiknya rencanakan kehamilan
    dengan melakukan konsultasi terlebih dahulu ke dokter kandungan.
2. Minimal diperlukan persiapan selama 3 bulan sebelum kehamilan.
3. Melakukan pemeriksaan antenatal  teratur sehingga dapat meminimalkan risiko.
4. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi untuk melihat perkembangan janin juga sangat diperlukan.
5. Sebelum kehamilan,  calon ibu penderita DM harus meperhatikan:
- regulasi glukosa untuk menurunkan risiko terjadinya kelainan bawaan dan keguguran.
- waspada terjadinya hipoglikemia.
-  Perhatikan penyuluhan dokter tentang rencana yang akan dan harus dilakukan.
-  Perlu mematuhi pemberian asam folat dari dokter, minimal 3 bulan dari sebelum kehamilan.

sumber : sangbuahhati.com

Lakukan Tes Sebelum dan Saat Kehamilan



Kehadiran buah hati yang cerdas dengan perkembangan sempurna menjadi dambaan setiap orangtua. Langkah medis apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkan harapan tersebut?
KEHAMILAN menjadi peristiwa yang banyak ditunggu pasangan suami isteri. Namun, tidak sedikit pula yang kemudian bermasalah dengan kesehatan ibu dan janin. Karena itu, diperlukan persiapan untuk memasuki masa sebelum dan saat kehamilan. Di antaranya lewat cek laboratorium.
Dr Mufti Yunus Spog menjelaskan, Pada dasarnya ada dua fase cek laboratorium yang mesti dilalui, yaitu saat mempersiapkan kehamilan dan ketika memasuki masa kehamilan. Tujuannya agar kesehatan dan keselamatan ibu serta janin lebih terjamin. Tes apa saja yang diperlukan?

Sebelum Kehamilan
Sebelum masa kehamilan, pasangan suami isteri sebaiknya menjalani tes hematologi (darah). Tes  yang masuk dalam kategori wajib ini, antara lain meliputi pemeriksaan hemoglobin, golongan darah dan resus suami isteri.
Mengapa diperlukan? Dokter Mufti menjelaskan bahwa perbedaan resus pada pasangan sami isteri bisa menyebabkan keguguran. Perbedaan resus banyak ditemui pada orang Indonesia yang menikah dengan orang asing (Amerika dan Eropa). Jika  resus ibu negatif, sedangkan calon ayah positif misalnya, sebagian besar janin akan mengikuti resus ayah, yaitu positif.
“Jika terjadi demikian, maka risiko keguguran akan meningkat karena terjadi penolakan di badan ibu. Kasus seperti ini, rata-rata terjadi pada kehamilan pertama, namun menjadi normal kembali pada kehamilan kedua,” paparnya.
                                                          
TORCH
Selain tes hematologi, sebelum kehamilan idealnya juga dilakukan tes TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes). Karena tes jenis ini cukup mahal, maka menurut Mufti, biasanya tidak semua dokter mengharuskan, tergantung situasi dan kondisi pasangan suami isteri. “Jika ada faktor risiko yang terungkap selama tanya jawab dengan pasien, barulah tes ini dilakukan. Andai positif, akan dilakukan langkah-langkah pengobatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain keguguran, toksoplasma juga menjadi penyebab penyakit hidrosefalus,” terang doker yang berpraktek di RS Omni Alam Sutra, Tangerang ini.
Pemeriksaan rubella (cacar jerman) juga diperlukan, terutama saat ibu memasuki masa kehamilan. Jika positif dan tidak tertangani, maka risiko yang bisa terjadi adalah keguguran atau bayi lahir cacat. Tanda-tanda calon ibu terserang rubella antara lain panas tinggi dan kulit kemerahan. Jika serangan rubella terjadi sebelum kehamilan, menurut dokter Mufti justru kondisinya menjadi lebih baik. Pasalnya, setelah terserang biasanya akan terbentuk antibodi yang jauh lebih kuat di tubuh ibu. “Pemeriksaan cytomegalovirus dan herpes juga diperlukan karena bisa menyebabkan risiko yang sama, yaitu keguguran dan bayi lahir cacat,” tambahnya.
Selain TORCH, dokter  akan melakukan prosedur anamnesa, yaitu tanya jawab dengan pasien. Bila dalam proses itu diketahui ada hal-hal yang berisiko, misalnya dalam keluarga ada penderita talasemia, punya riwayat hepatitis, gula darah, dsb, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai dengan kebutuhan pasien. “Idealnya semua tes dilakukan. Tapi karena cost-nya lumayan tinggi, maka bisa pilah berdasarkan faktor risiko.”
Saat Kehamilan
Di saat kehamilan, lanjut dokter  Mufti, beberapa tes laboratorium juga perlu dilakukan.Dokter pada umumnya merekomendasikan dua kali tes, yaitu di awal kehamilan dan di trimester ketiga. Namun, idealnya tes laboratorium dilakukan dengan rentang waktu per tiga bulan.
1. Trimester pertama (usia janin 0-12 minggu)
Tes yang diperlukan adalah hematologi dan TORCH. Pemeriksaan TORCH saat hamil menurut dokter Mufti sangat penting, karena toksoplasma yang tidak berdampak  saat calon ibu belum hamil, menjadi berbahaya di masa kehamilan. Risiko kesehatan ibu dan bayi menjadi lebih besar. Jika diketahui sejak dini, maka bisa dilakukan pengobatan untuk menyelamatkan kandungan.
Trimester kedua  (12 minggu ke atas hingga 28 minggu)
Kecenderungan calon ibu saat hamil adalah kekurangan zat besi, kalsium, dll, Kondisi itu  menjadi pendorong diperlukannya tes darah (hematologi), termasuk pengecekan gula darah.  Tingginya gula darah saat kehamilan bisa menjadi penyebab kematian bayi dalam kandungan.
Selain itu, pada trimester kedua, perlu dilakukan tes urine, terutama untuk mengecek kandungan protein. Tes urine ini biasanya disarankan jika ibu hamil memiliki kecenderungan peningkatan tekanan darah, hingga keluar dari batas normal. Kondisi seperti ini bisa menyebabkan eklamsia yang membahayakan nyawa ibu dan janin.
Trimester ketiga (28 minggu ke atas)
Pada rentang waktu ini, idealnya juga dibutuhkan tes laboratorium hematologi, dan tes urine. Tujuannya  untuk mempersiapkan kelahiran yang aman bagi keselamatan ibu dan janin.
Periksa Rutin
Selain melakukan berbagai tes, dokter Mufti menyarankan agar ibu hamil melakukan pemeriksaan kandungan ke dokter atau pun bidan, minimal empat kali di masa kehamilan. Pemeriksaan bisa dilakukan satu kali di trimester pertama, satu kali lagi di trimester kedua, dan dua kali pemeriksaan di trimester ketiga.
Jangan abaikan anjuran-anjuran ini. Mari tekan faktor risiko, persiapkan diri menyambut kehamilan dan kelahiran sang buah hati.

sumber : sangbuahhati.com

Bolehkah Ibu Flu Tetap Menyusui?


BISA menyusui buah hati merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu. Namun, terkadang muncul keraguan saat daya tahan tubuh menurun hingga ibu terserang flu/salesma. Mulailah muncul berbagai pertanyaan, apakah ibu yang terserang flu tetap boleh menyusui? Bagaimana jika buah hati tercinta tertular? Obat apa yang bisa diminum dan aman untuk bayi? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin menggelisahkan hati bunda.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Free Magazine Sang Buah Hati melakukan wawancara dengan dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC. Semoga jawaban-jawaban yang diberikan bisa menenangkan dan menambah pengetahuan bunda. Berikut kutipan wawancaranya.

Foto:  www.i-reckon.com.au
Apakah ibu menyusui yang terserang flu tetap bisa menyusui?
Secara medis, sebenarnya sedikit sekali kondisi ibu yang benar-benar tidak bisa melanjutkan kegiatan menyusui saat sakit. Hanya ibu dengan infeksi HIV dan HTLV yang dibolehkan tidak menyusui bayinya. Ibu dalam kondisi sakit parah yang memerlukan perawatan intensif, mungkin dianjurkan menghentikan kegiatan menyusui untuk sementara hingga kondisinya pulih.
Ibu yang terserang flu (istilah yang lebih tepat adalah selesma atau common cold) tetap bisa menyusui sang buah hati secara langsung seperti biasa.
Tidakkah virus salesma bisa menular pada buah hati?
Dengan menyusui, maka antibodi yang dibentuk tubuh ibu untuk melawan virus salesma akan ditransfer kepada bayi melalui ASI, bahkan sebelum ibu mengalami gejala flu. Transfer antibodi memberi keuntungan bagi bayi. Dia akan memiliki kekebalan alami dari ASI. Bila kemudian tertular, tubuhnya sudah dipersiapkan oleh antibodi yang terkadung di dalam ASI. Hal ini tidak mungkin diperoleh jika bayi tidak disusui.
Tindakan apa yg harus dilakukan agar buah hati tidak tertular?
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi penularan. Di antaranya selalu mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, memakai masker agar percikan ludah saat batuk atau bersin tidak terpapar ke bayi, menghindari kontak wajah dengan bayi, dsb.
Sebaiknya menidurkan bayi di samping ibu, agar ibu dapat menyusui dengan mudah dalam posisi tidur menyamping. Posisi seperti itu akan sangat membantu  ibu agar cukup beristirahat.
Apa yang harus dilakukan ibu agar cepa sembuh dari flu?
 Flu (selesma/common cold) disebabkan oleh virus yang sifatnya self limiting disease. Keluhan dan gejala akan membaik spontan dalam 7-14 hari. Disarankan untuk istirahat cukup, banyak minum air hangat, berjemur matahari pagi, mandi air hangat, tetes hidung salin dan terapi uap dengan peppermint atau eucalyptus oil. Tindakan-tindakan itu pada umumnya cukup membantu kenyamanan ibu selama terserang flu. Dianjurkan juga untuk mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Namun, adakalanya ibu memerlukan obat untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat demam, sakit kepala, hidung mampet, pilek dan batuk.
Obat flu apa yang aman dikonsumsi ibu menyusui?
Beberapa obat flu over the counter (OTC) yang dijual bebas dapat dikonsumsi ibu menyusui dengan aman. Jenis obat yang tergolong aman untuk ibu menyusui adalah pereda nyeri/demam (parasetamol, ibuprofen), pelega hidung (natrium kromlin), anti alergi (loratadin, tripolidin) dan obat pereda batuk (dextromethorphan). Ibu menyusui sebaiknya menghindari obat flu yang mengandung pseudoephedrin atau phenylephrin, karena berisiko mengurangi produksi ASI.
Apakah ibu menyusui bisa tetap melakukan imunisasi flu?
Jika yang dimaksud flu adalah selesma/common cold, sayang sekali sampai saat ini belum tersedia vaksinnya. Yang biasa diberikan adalah vaksin influenza, yaitu pencegahan terhadap virus influenza penyebab flu burung, flu babi, dan sejenisnya. Tidak ada kontraindikasi bagi ibu menyusui untuk imunisasi, bisa dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan. 

sumber : sangbuahhati.com

Sabtu, 02 Maret 2013

Lakukanlah Rutinitas Ini untuk Mendukung Perkembangan Bayi




Jakarta, Bayi akan belajar sesuatu dari kebiasaan yang dibentuk oleh orang tuanya setiap hari. Beberapa kegiatan seperti makan dan tidur, harus dijadikan rutinitas bagi bayi karena hal ini dapat membuat bayi merasa lebih aman dan tenang yang baik untuk perkembangannya.

Seperti dilansir Parenting, Kamis (21/2/2013) berikut adalah 4 kegiatan yang perlu dijadikan rutinitas untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat:

1. Makan
Penting bagi orang tua untuk menjadikan waktu makan bayi sebagai rutinitas, karena hal ini dapat mengajarkan bayi tentang bagaimana dirinya makan di jam-jam tertentu saat merasa lapar. Menjaga rutinitas menyusui juga baik untuk menjaga agar produksi ASI Anda lebih konsisten.

Rutinitas makan juga bermanfaat agar bayi terbiasa dengan jadwal makannya dan tidak merasa kelaparan setiap saat. Jangan menyuapi bayi sambil menonton televisi atau melakukan kegiatan lainnya, sebaliknya perbanyak kontak mata dengan bayi agar dirinya merasa tenang dan nyaman.

Kata rutin di sini bukanlah hal yang sama seperti jadwal, sehingga Anda tidak harus memberikan makanan pada bayi tepat pada waktunya. Cobalah untuk lebih fleksibel terhadap jam makan bayi, tetapi mengusahakan agar tetap teratur setiap harinya.

2. Bermain
Bermain sangat penting bagi bayi untuk mengembangkan daya pikir otaknya. Ketika sedang bermain dengan mainan tertentu, dirinya akan belajar menyelidiki sesuatu dengan jari-jari tangannya. Bayi akan lebih mudah belajar jika bermain telah menjadi rutinitas yang akrab baginya.

Bayi yang memiliki rutinitas bermain juga akan tumbuh menjadi anak yang aktif dan waspada. Setelah makan, ajaklah bayi Anda bermain seperti memberikan mainan yang bisa disentuhnya, membacakan cerita, atau menggoyangkan tangan bayi seperti mengajaknya menari.

Bayi sangat sensitif terhadap warna, lampu dan suara yang membuatnya penasaran ketika bermain. Jangan terlalu lama menyediakan waktu bermain untuk bayi, karena dirinya perlu beristirahat. Bagi bayi yang masih belum berusia 2 tahun, batasi waktu bermainnya selama 5 sampai 10 menit setiap kali bermain.

3. Mandi
Mandi juga harus menjadi rutinitas yang diperkenalkan sejak dini pada bayi. Rutinitas waktu mandi dapat menyegarkan tubuh bayi setelah bangun tidur di pagi hari dan membuat tidur malam bayi lebih nyenyak. Tetapi penting bagi orangtua untuk memastikan bahwa bayinya dalam keadaan santai ketika sedang mandi dan tidak rewel.

Anda membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk memandikan bayi dan pastikan bahwa Anda sedang tidak terburu-buru. Tanggalkan pakaian bayi sambil mengajaknya berbicara agar bayi merasa lebih tenang ketika melakukan kontak dengan air.

Kebanyakan bayi akan menangis ketika dimandikan karena merasa terkejut akibat kontak yang tiba-tiba dengan air. Jangan melepaskan pandangan Anda kepada bayi ketika sedang berada di dalam bak mandi untuk menghindari beberapa kecelakaan kecil, seperti masuknya air ke hidung bayi.

4. Tidur
Orang tua harus berusaha menjaga rutinitas tidur bayi di waktu yang hampir sama setiap malamnya. Menunda waktu tidur dapat membuat bayi semakin lelah, hal ini dapat membuatnya kesulitan untuk jatuh tertidur. Tidur yang berkualitas dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya.

Perhatikan tanda-tanda bahwa bayi mulai mengantuk, seperti kelopak mata tampak berat, menguap, bayi mulai menggosok matanya, dan menjadi rewel atau gelisah. Satu jam atau lebih sebelum waktu tidur, mulailah rutinitas seperti mandi, memijat bayi, atau menyanyikan lagu pengantar tidur.

sumber : detik.com

Jangan Biarkan Anak Mengisap Jari & Mengempeng Agar Gigi Tak Tonggos




Jakarta, Sejak berada di dalam kandungan, sebenarnya janin sudah suka mengisap jarinya. Nah, kebiasaan ini terbawa hingga mereka lahir dan tumbuh besar. Padahal kebiasaan mengisap jari tidak baik untuk anak-anak lho. Sebab mengisap jari dan mengempeng bisa bikin gigi anak tonggos.

"Kebiasaan mengisap jari sudah dilakukan sejak dalam kandungan bahkan sampai dewasa. Mengisap jari dan mengempeng mempengaruhi tumbuh kembang rahang dan struktur gigi sehingga membuat gigi menjadi tonggos," kata Prof Heriandi S, drg. SP. KGA (K), PHD.

Hal itu disampaikan dia dalam seminar bertajuk 'Gigiku Sehat Tubuhku Kuat' di Auditorium Sekolah Islam Dian Didaktika, Jl Rajawali Blok F No. 16 Cinere Estate, Depok, Jawa Barat, dan ditulis pada Minggu (24/2/2013).

Menurut alumnus Okayama University Dental School Jepang itu penggunaan dot oleh anak-anak mempengaruhi struktur tumbuh kembang rahang. Selain itu gigi depan pada anak mudah rusak jika mereka meminum susu melalui dot.

"Apalagi jika punya kebiasaan makan makanan manis," sambung Prof Heriandi.

Disampaikan dia susu terbaik bagi bayi adalah susu ibu, karena tidak akan membuat bayi yang sudah mulai tumbuh gigi hingga usia dua tahun mengalami sakit gigi. Nah setelah tidak lagi minum ASI, minum susu yang dijual di pasaran sebenarnya tidak masalah. Namun orang tua harus memperhatikan baik-baik kandungan gula pada susu yang diminum anak-anaknya.

"Bukan soal murah atau mahal. Susu yang mengandung banyak gula bisa merusak gigi," ucapnya.

Prof Heriandi pun mewanti-wanti orang tua agar membantu anak merawat gigi. Caranya adalah dengan mendampingi anak saat menyikat gigi agar kegiatan itu bisa dilakukan dengan benar. Lalu mengurangi minum-minuman dan makan-makanan yang manis, serta rutin berkonsultasi pada dokter gigi anak.

Untuk membuat kunjungan rutin ke dokter gigi, sebaiknya anak-anak diperkenalkan sejak umur 3 tahun dan seterusnya. Dengan begitu nantinya mereka bisa membina hubungan baik dengan dokter gigi. Kebiasaan bagus ini akan membuat gigi anak sehat serta memiliki senyum yang cerah dan indah.

sumber : detik.com

Ini Dia Penyebab Gigi Kuning Pada Balita

Jakarta, Meskipun masih anak-anak, kadang mereka juga suka memperhatikan penampilannya. Tak heran anak-anak merasa malu bahkan minder jika giginya terlihat kuning. Sebenarnya, apa saja sih yang menyebabkan gigi anak menjadi kuning?

Ada beberapa faktor yang membuat gigi anak berubah warna menjadi kuning, misalnya adanya stain yang menempel dari minuman, air minum yang menggunakan pompa dengan kadar zat besi yang tinggi. Vitamin yang juga mengandung zat besi serta menyikat gigi yang tidak benar juga menjadi penyebab.

"Antibiotik yang diminum dibawa melalui pembuluh darah yang sebagian diendapkan pada gigi," ujar Prof. drg. Heriandi Sutadi SpKGA (K)., Ph.D. saat ditemui dalam acara seminar bertajuk 'Gigiku Sehat Tubuhku Kuat' di Auditorium Sekolah Islam Dian Didaktika, Jl Rajawali Blok F No. 16 Cinere Estate, Depok, Jawa Barat, seperti ditulis pada Senin (25/2/2013).

Dokter kelahiran Cianjur, 6 Oktober 1954 ini juga menjelaskan bahwa penggunaan pada antibiotik bisa mempengaruhi gigi anak menjadi kuning. Antibiotik yang menyebabkan gigi kuning pada balita adalah yang terutama dari golongan tetrasiklin, memunculkan dampak jika penggunaannya berlebihan dan jangka waktu yang panjang. Namun untuk saat ini pengaruh dari antibiotik tidak terlalu besar.

Lalu, idealnya kapan melakukan perawatan gigi? "Perawatan gigi dilakukan sejak ibu hamil dengan makan-makanan yang bergizi dan diperbolehkan mengonsumi vitamin," kata Prof Heriandi.

Ditambahkan pula oleh pendiri dan Board Committee PDAA (Pediatric Dentistry Association of Asia) yang menjabat hingga sekarang, cara mudah untuk mempertahankan gigi sehat yaitu mengurangi minum-minuman dan makan-makanan manis. Lakukan pula kumur dengan air putih dan kontrol dengan obat antiplak.

Maka dari itu, sayangilah anak Anda dengan membawanya rutin ke dokter gigi. Sebab jika giginya sakit maka asupan makannya menjadi berkurang dan kesehatan akan terganggu.

sumber : detik.com

Lakukan 5 Langkah Ini Agar Si Jabang Bayi Sehat




Jakarta, Kehamilan adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri yang merencanakan kehadiran sang buah hati. Penting bagi calon orangtua untuk saling membina hubungan yang harmonis karena hal ini ternyata berkontribusi terhadap kesehatan dan perkembangan bayi.

Seperti dilansir Mom.me, Rabu (27/2/2013) berikut ini adalah cara meningkatkan ikatan antar suami istri yang dapat mempromosikan kesehatan kehamilan dan bayi, antara lain:

1. Saling mendukung
Hidup seorang wanita akan berubah setelah hamil, dirinya harus lebih banyak istirahat, makan makanan yang lebih bergizi, dan lebih memperhatikan hal-hal yang mungkin berpengaruh terhadap kehamilannya. Hal ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh wanita dan memerlukan dukungan penuh dari suami.

Dukungan yang baik dari suami dapat meningkatkan hubungan yang harmonis karena istri merasa lebih diperhatikan dan disayangi. Tentu hal ini dapat berdampak baik terhadap suasana hatinya, terhindar dari stres dan mewujudkan kehamilan yang sehat.

2. Menjaga kehamilan bersama-sama
Seorang suami juga harus mengetahui bagaimana perkembangan calon buah hati dalam kandungan istrinya. Hal ini dapat meningkatkan ikatan batin yang kuat dengan istri serta bayi dalam kandungannya sekaligus. kehamilan adalah tanggungjawab bersama, sehingga suami istri harus bersama-sama menjaganya dengan baik.

Sesibuk apapun pekerjaan Anda, cobalah untuk meluangkan waktu menemani istri mengunjungi dokter kandungan untuk mengetahui perkembangan bayi. Selalu dampingi istri saat dirinya merasa depresi karena kehamilan dan saat istri melalui masa-masa morning sickness yang berat.

3. Berhubungan seks
Beberapa wanita takut berhubungan seks selama kehamilan, tetapi menurut para dokter, seks selama kehamilan umumnya aman dan tidak menimbulkan masalah jika Anda dapat mempertahankan energi yang cukup.

Seks adalah cara yang bagus untuk meredakan stres dan meningkatkan ikatan dengan pasangan baik secara fisik maupun emosional. Saling komunikasikan tentang kebutuhan dan keinginan seksual masing-masing. Penting bagi suami istri untuk saling menunjukkan kasih sayang non-seksual satu sama lain sepanjang hari demi kesehatan bayi dalam kandungan.

4. Saling terbuka dalam hal harapan serta kecemasan-kecemasan terkait kehamilan
Kedua pasangan harus memiliki visi dan misi yang sama terkait dengan kehamilan dan perencanaan masa depan bayi. Jika terjadi pertentangan antara suami istri, hal ini dapat membebani kondisi mental keduanya yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan bayi.

Suami istri harus saling terbuka dalam mengungkapkan hal-hal yang ada di pikirannya terkait harapan dan kecemasan setelah bayi lahir. Hal ini termasuk kebutuhan finansial yang semakin bertambah dan kondisi rumah tangga lain yang perlu disesuaikan.

5. Lebih banyak bergaul dengan lingkungan sekitar
Jika pasangan suami istri terisolasi dari lingkungan sosial dan tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang yang tinggal di sekeliling Anda, hal ini dapat berpengaruh pula terhadap kesehatan bayi kelak. Orangtua yang sedang merencanakan kelahiran anak harus memiliki hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitarnya.

Orang yang tidak banyak bergaul akan cenderung merasa kesepian dan mudah stres, sehingga hubungan sosial yang baik diperlukan untuk kehamilan yang sehat

sumber : detik.com

Ini Caranya Agar Bayi Punya IQ Tinggi Sejak dalam Kandungan


Foto: Ilustrasi/Thinkstock


Jakarta, Setiap orang tua tentu menginginkan putra putrinya lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Bila ingin memiliki anak ber-IQ tinggi, orang tua sebaiknya mempersiapkan sejak bayi masih dalam kandungan.

Para ahli kesehatan telah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan IQ bayi saat ia dalam rahim ibu. Makan makanan sehat dan merangsang anak yang belum lahir saat masih dalam kandungan, dapat menciptakan sambungan di otak untuk meningkatkan kecerdasan dan konsentrasi, yang membantunya belajar di kemudian hari.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan IQ anak sejak ia masih dalam kandungan, seperti dilansir Onlymyhealth, Rabu (27/2/2013):

1. Sering mengajak janin bicara

Janin yang sedang berkembang di rahim sudah dapat mendengar suara yang terjadi di luar rahim setelah kehamilan 23 minggu. Bayi dalam kandungan memiliki kemampuan yang terbatas untuk mendengar, tetapi dapat membedakan suara ibunya.

Pakar kesehatan di NYU Brain Research Laboratories setuju bahwa mendengarkan musik yang menenangkan atau membacakan puisi untuk bayi Anda sejak ia masih dalam rahim dapat berguna untuk meningkatkan kemampuan menulis, membaca dan bahasa bayi kelak.

2. Makan makanan yang sehat

Membuat pilihan makan yang tepat tidak hanya akan menguntungkan ibu hamil tetapi juga memiliki dampak positif pada perkembangan bayi. Makanan tinggi lemak omega-3 (nabati) dan turunannya (DHA) meningkatkan perkembangan otak bayi.

Ikan berlemak seperti tuna, salmon, ikan herring, minyak ikan, dan hati yang tinggi omega-3, serta unggas dan kuning telur dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan DHA. Makanan tinggi asam folat, yang meliputi buah jeruk, brokoli, hati, sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan menghilangkan risiko cacat saraf otak dan tulang belakang pada bayi.

3. Merangsang bayi

Studi Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychology menyarankan bahwa cahaya redup bisa merangsang bayi saat diletakkan dekat dengan perut ibu. Jangan memberi bayi cahaya terang langsung di perut karena dapat membahayakan mata bayi.

Anda akan merasakan responsnya ketika merasakan ada gerakan menendang atau bergerak dari dalam perut. Menyentuh perut dengan lembut juga merupakan cara lain untuk merangsang si buah hati.

4. Hindari stres

Hindari stres karena dapat berdampak negatif pada perkembangan bayi. Jika Anda stres dan cemas, ada kemungkinan akan membuat bayi cemas juga karena Anda berbagi hormon dengannya. Untuk menghindari stres, praktikkan latihan relaksasi atau yoga prenatal.

5. Hentikan kebiasaan tak sehat

Berhentilah merokok, minum alkohol atau mengonsumsi obat-obatan karena dapat menghambat perkembangan otak bayi, menurut sebuah studi yang dilakukan di Moffitt Cancer Center.

sumber : detik.com

Bayi Tidak Bisa Tidur Kalau Ibunya Stres

Jakarta, Terkadang seorang ibu mengaku stres karena bayinya susah tidur malam. Pandangan ini ternyata keliru, sebenarnya bayi yang tidak bisa tidur karena tahu ibunya stres.

Jadi menurut peneliti, jangan di balik cara pandangnya. Bayi yang sulit tidur bukan penyebab ibunya stres, tapi si bayi tidak bisa tidur karena merasakan ibunya sedang stres.

Studi terbaru saat ini menunjukkan bahwa masalah emosi yang dialami oleh seorang ibu dan kebiasaan tidur bayi sangat berkaitan erat, bahkan pada orangtua yang sudah beberapa kali memiliki anak.

Sekitar dua per tiga ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan (postpartum depresion) akan memiliki bayi dengan pola tidur yang tidak baik.

Ibu yang depresi atau stres ini akan mengganggu kemampuannya dalam memberikan kehangatan emosional yang diperlukan dalam perkembangan bayi dan membantunya tertidur.

Kondisi ini akan membuat bayi yang memiliki ibu depresi atau stres akan memiliki masalah kurang tidur dibanding dengan bayi yang ibunya tidak stres.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang sulit tidur ternyata disebabkan pengaruh dari faktor emosional ibunya seperti dikutip dari Health.MSN.com, Selasa (1/3/2011).

Studi yang dilakukan Roseanne Armitage dan rekan dari University of Michigan menemukan bahwa bayi yang ibunya memiliki riwayat stres atau depresi akan memiliki pola tidur yang tidak teratur. Si bayi jadi tidak bisa membedakan kapan waktunya tidur dan kapan waktunya bangun karena ibu yang stres tidak mampu memberikan kehangatan dan kenyamanan agar si bayi tidur.

Untuk itu menurut Harriet Hiscock, seorang dokter anak dari University of Melbourne, Australia ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar si kecil dapat tidur dengan baik yaitu:


  1. Biarkan bayi tertidur dengan gayanya sendiri
  2. Memiliki jam tidur yang konsisten mengenai kapan bayi harus tidur dan bangun
  3. Usahakan ibu memiliki suasana hati yang baik saat menggendong bayi, karena bayi bisa merasakan kecemasan atau ketakutan yang dialami si ibu
  4. Jika ibu sudah tenang, gendonglah bayi sehingga ia bisa merasakan detak jantung sang ibu dan memiliki kontak kulit langsung
  5. Ketika bayi menangis, tengoklah ia sejenak sampai ia merasa tenang kembali

Umumnya tingkat depresi yang dialami ibu akan jauh lebih rendah jika si kecil sudah berusia di atas 2 tahun. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Pediatrics.


sumber : detik.com

Anak Demam Tidak Selalu Butuh Obat

Jakarta, Ketika suhu badan anak meningkat, orangtua sering panik lalu buru-buru membawanya ke dokter atau memberinya obat penurun panas. Padahal demam tidak selalu butuh obat, adakalanya peningkatan suhu tubuh bisa diturunkan secara alami.

Demam atau peningkatan suhu tubuh merupakan isyarat bahwa tubuh sedang melakukan perlawanan terhadap infeksi yang menyerang.Karena itu, kondisi ini sering dikatakan sebagai gejala dari penyakit lain yang sesungguhnya terutama yang dipicu oleh infeksi bakteri.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics mengatakan, demam setinggi apapun tidak akan merusak saraf. Kebanyakan hanya memicu keluarnya keringat dalam jumlah banyak yang justru mempercepat kesembuhan penyakit yang sesungguhnya.

Janice Sullivan, MD dari University of Louisville yang melakukan penelitian itu mengatakan, bakteri atau virus juga lebih sulit berkembang biak ketika suhu tubuh sedang tinggi. Suhu tinggi meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh di kelenjar limpa.

Sullivan mengatakan, satu-satunya alasan untuk memberikan obat turun panas adalah untuk mengurangi rasa gelisan dan tidak nyaman pada anak. Penyakitnya sendiri lebih cocok diobati dengan antibiotik, meski kadang-kadang fungsi obat ini masih bisa digantikan oleh sistem kekebalan tubuh.

Untuk menurunkan panas anak secara alami adalah:


  1. Mengompres anak dengan air biasa bukan es atau alkohol karena perbedaan suhu bisa membuat anak kejang. Lakukan kompres di dahi, ketiak dan selangkangan.
  2. Berikan anak minum cairan yang banyak.
  3. Pakaikan anak pakaian yang tipis agar tidak menghambat keluarnya panas.

Orangtua hanya boleh panik dan segera membawa anaknya ke dokter jika kondisinya sebagai berikut, seperti dikutip dari MensHealth.com,

  1. Suhu tubuhnya melampaui 38 derajat celcius untuk anak usia 3-6 bulan
  2. Suhu tubuhnya melampaui 39 derajat celcius untuk anak usia di atas 6 bulan
  3. Demam tidak turun selama 96 jam atau 4 hari.

Jika hendak memberinya obat turun panas sendiri, pastikan dosisnya sesuai dengan usia dan berat badan si anak atau jika tidak yakin tanyakan pada dokter atau apoteker terdekat. Penelitian Sullivan menunjukkan, sebagian orangtua memberikan obat dengan dosis yang tidak sesuai.

Penelitian ini juga mengatakan bahwa yang perlu dikhawatirkan sebenarnya adalah gejala lain yang menyertai demam. Keluhan-keluhan seperti sakit kepala berat, dehidrasi, ruam kulit dan sesak napas justru lebih mengindikasikan adanya gangguan serius sehingga perlu diperiksakan ke dokter.


sumber : detik.com

Aktivitas Yang Membuat Buah Hati Menjadi Cerdas




Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang senang bermain game online, mereka kerap sering mencari warnet (warung internet) dengan layanan jaringan yang baik. Lantas apa sebagai orang tua kalian mengijinkan anak-anak kalian untuk bermain game online terutama apabila anak kalian masih sangat kecil.

Nah, sebagai orang tua yang bijak pasti menginginkan agar buat hati kita menjadi anak yang cerdas dan pintar. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi cerdas.

1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajaklah anak kalian untuk membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak akan banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi akan sangat mungkin bagi anak kalian untuk mendengarkan apa yang kalian baca. Setidaknya ajaklah membaca selama 20 menit sehari. Sambil membacakan buku untuknya, tanyakan juga kepadanya gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

2. Dengarkan musik
Bernyanyilah bersama anak kalian. Biaskan untuk mendengarkan musik saat sedang berada dirumah atau dimobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan meskipun diputar secara terus menerus. Jika kalian bernyanyi, otomatis anak kalian akan ikut bernyanyi juga. Lama-lama anak kalian akan bernyanyi dengan sendiri meskipun tidak ada musik yang mengiringi.

3. Ajarkanlah tentang angka dan bentuk benda
Ajarkanlah kepada anak kalian tentang bentuk benda, warna dan juga angka seharian penuh.

4. Ajarkan juga nama-nama bagian tubuh
Selain itu ajarkan juga kepada anak kita tentang nama-nama bagian tubuhnya. Sambil mengenalkan bagian tubuhnya, tunjuklah bagian tubuh yang kalian maksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan lain-lain.

5. Gunakanlah instruksi
Ketika sedang bermain berikanlah instruksi. Dengan demikian si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan juga akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruksi sederhana adalah memintanya untuk menutup pintu atau mengambilkan bola.

6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan anak-anak. Lalu gunakan buku katalog dan mintalah si anak untuk memilih mainan yang ia sukai di katalog tersebut. Setelah itu, ajak anak kalian untuk mencari mainan tersebut di rak mainan.
Demikianlah beberapa aktivitas yang bisa kalian ajarkan kepada buah hati kalian. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.

sumber : blogdetik.com

Makna di Balik Perilaku si Bayi



Jakarta, Beberapa orangtua mungkin penasaran dengan apa yang terjadi di balik perilaku si kecil. Setidaknya ada 6 fakta mengenai perilaku bayi yang perlu diketahui para orangtua karena menyangkut pertumbuhan otaknya.

Keenam fakta seputar otak bayi yang sebaiknya diketahui setiap orangtua, seperti dikutip dari LiveScience, Minggu (6/3/2011) yaitu:

1. Respons yang lambat dari orangtua memberikan kekusutan di otak bayi
Otak bayi menggunakan tanggapan atau respons dari pengasuh maupun orangtua untuk membantunya berkembang. Cepatlah bertindak jika bayi menangis atau gelisah agar otaknya tidak kusut. Bayi akan memiliki periode puncak menangis sekitar usia 1-2 bulan.

Studi membuktikan otak bayi yang dibiarkan menangis untuk jangka waktu lama, berisiko mengalami kerusakan dalam perkembangannya yang dapat mengurangi kapasitasnya untuk belajar.

"Seorang bayi yang sudah terlalu lama menangis pada akhirnya akan berhenti. Hal ini bukan karena ia telah belajar untuk tidur sendirian, tapi karena ia kelelahan dan telah putus asa untuk mendapatkan bantuan," ungkap Penelope Leach, seorang pakar kesehatan anak.

2. Wajah yang lucu dan suara merupakan hal penting bagi bayi

Ketika bayi meniru wajah seseorang maka ia juga memicu emosi di dalam dirinya. Hal ini membantu membangun pemahaman dasar mengenai komunikasi emosional. Sedangkan berbicara dengan si kecil terutama menggunakan struktur yang lambat dan menekankan komponen-komponen penting dari suatu bahasa akan membantunya memahami kata-kata.

3. Otak bayi berkembang sangat cepat
Setelah lahir otak manusia tumbuh dengan pesat dan bahkan telah mencapai ukuran 60 persen dari ukuran otak dewasa saat ia mencapai usia 1 tahun. Memasuki usia taman kanan-kanak otaknya telah mencapai ukuran penuh meski belum selesai berkembang hingga ia berusia 20-an tahun. Umumnya otak tidak pernah berhenti berubah untuk menjadi lebih baik atau justru lebih buruk.

4. Mengoceh merupakan sinyal bayi belajar
Bayi biasanya mengeluarkan suara untuk menyampaikan ketertarikannya pada sesuatu. Secara khusus mengoceh merupakan sinyal yang diberikan bayi bahwa ia siap untuk belajar. Karenanya salah satu hal yang bisa membuat bayi belajar adalah mengajaknya berbicara, menekankan dialog yang baik dengan anak serta orangtua merespons ucapan bayi dengan vokalisasi berjeda.

5. Bayi membutuhkan setidaknya 3 orang dewasa berbeda
Sebuah studi yang dilaporkan dalam jurnal Monographs of the Society for Research in Child Development tahun 1995 menunjukkan bahwa bayi membutuhkan setidaknya 3 orang dewasa yang mengajaknya berinteraksi. Hal ini membuktikan bahwa bayi membutuhkan orang dewasa lainnya selain orangtua, orang dewasa ini bisa kakek, nenek, pengasuh, teman atau anggota keluarga lainnya.

Kondisi ini akan membantu bayi belajar membaca ekspresi wajah yang berbeda-beda serta memperluas kemampuannya untuk mengerti perspektif orang lain. Umumnya bayi mulai bisa mengartikan emosi orang dewasa saat berusia 7 bulan.

6. Isap Jempol
Kebiasaan mengisap jempol dilakukan hampir 80 persen balita. Bayi yang mengisap jempol biasanya sebagai upaya menenangkan diri. Mengisap jempol merupakan refleks normal yang terjadi pada balita untuk menenangkan dirinya saat mengalami stres, yang pada intinya bayi tersebut mencari kenyaman dan rasa aman.

sumber : detik.com

Jangan Biarkan Anak-anak Berenang Terlalu Lama

(Foto: thinkstock)




Berenang sangat baik untuk perkembangan fisik dan otak anak-anak. Berenang merupakan salah satu olahraga yang baik, karena melibatkan banyak otot dan organ tubuh. Tapi bila terlalu lama berendam di dalam air yang dingin juga bisa memicu berbagai penyakit.

Air yang digunakan untuk berenang biasanya akan lebih dingin dibandingkan udara di sekitar. 
Merendam tubuh di dalam air yang dingin akan menurunkan suhu tubuh seseorang, sehingga saat keluar dari kolam renang atau ke udara yang bersuhu lebih panas, tubuh akan berusaha untuk menormalkannya.

Bila dilakukan pada waktu yang cukup atau tidak terlalu lama sekitar 1-2 jam, reaksi tersebut bisa membuat anak merasa lapar setelah selesai berenang.

Tapi bila anak dibiarkan berlama-lama berendam di air lebih dari 2 jam, bisa menyebabkannya kedinginan dan memicu peningkatan denyut jantung tiba-tiba (tachycardia), seperti dilansir heart-problems.net, Senin (7/3/2011).

Berenang atau berendam pada suhu air yang lebih rendah dari suhu tubuh untuk waktu yang lama dapat membuat pembuluh darah arteri berkontraksi dan perluasan vena kecil, yang dapat menyebabkan darah berhenti di pembuluh darah subcutaneous.

Dengan kondisi tersebut, denyut jantung dan aliran darah akan terganggu dan menyebabkan defisit (kekurangan) oksigen yang dapat menyebabkan hal yang serius.

Selain itu, berenang terlalu lama pada air yang dingin dapat meningkatkan beban pada jantung, yang menyebabkan jantung berdetak lebih cepat secara tiba-tiba, yang pada orang tertentu bisa memicu penyakit jantung.

Oleh karena itu, sebaiknya jangan biarkan anak-anak atau orang dengan kondisi jantung lemah berlama-lama berendam dalam air yang dingin. Jika ada gejala tidak nyaman yang dirasakan, segeralah keluar dari air untuk mencegah kedinginan dan terjadinya peningkatan denyut jantung secara tiba-tiba.

sumber : detik.com

Ini Akibatnya Jika Orangtua Punya Anak Kesayangan



Washington DC, Setiap orangtua pasti memiliki satu anak yang lebih dicintai, diperhatikan atau dimanja dibandingkan anak yang lain, meski jarang ada orangtua yang mengakuinya.

Mempunyai anak kesayangan sebaiknya jangan terlalu mencolok agar tidak merusak psikologi anak yang lainnya. Karena hal ini bisa berdampak buruk seumur hidup pada anak yang bukan jadi anak kesayangan.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Netmums, salah satu situs paling populer di Inggris, menunjukkan bahwa 1 dari setiap 6 ibu punya anak kesayangan dalam keluarga. Dalam studi ini, lebih dari 1.000 wanita yang disurvei dan 16 persen mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan.

Survei yang dilakukan sebelumnya oleh peneliti dari University of Manchester’s Faculty of Life Sciences juga menunjukkan bahwa setiap orangtua sebenarnya memiliki anak favorit atau anak kesayangan dalam keluarga. Hasil temuan tersebut bahkan sudah pernah dipublikasikan dalam jurnal Ecology pada tahun 2007.

"Ada pilih kasih dalam setiap keluarga dan hal ini akan memiliki dampak seumur hidup bagi setiap orang," jelas Dr Ellen Weber Libby, psikolog anak di Washington DC, seperti dilansir Dailyrecord, Senin (14/3/2011).

Beberapa orang berpendapat bahwa memperlakukan anak dengan pilih kasih adalah kejam. Dalam bukunya The Favourite Child, Dr Libby juga menjelaskan memiliki anak kesayangan akan menjadi kejam bila orangtua memperlakukan anak kesayangannya tersebut secara istimewa secara terus-menerus atau konsisten.

"Yang terpenting adalah apresiasi yang dialami anak mencerminkan kebutuhan emosional orangtua untuk memanjakan anaknya, bukan karena perilaku anak. Dengan demikian, meski orangtua memiliki anak kesayangan dalam keluarga, mereka tetap akan melakukan anak dengan standar yang sama, sehingga kekejaman tidak akan terjadi," jelas Dr Libby.

Namun bila orangtua sangat mencolok sikap pilih kasihnya terhadap anak kesayangannya, maka hal tersebut bisa berdampak sangat buruk. Anak-anak yang kurang diperhatikan bisa merasa bahwa ia bukan orang yang penting di dalam keluarga dan menyebabkannya memiliki harga diri yang rendah atau kebencian sendiri, seperti dilansir Helium.

Meski memiliki anak kesayangan, Dr Libby mengatakan orangtua sebaiknya memperlakukan setiap anak dengan sama. Pilih kasih pada anak bisa menjadi bentuk pelecehan emosional, terutama bila meremehkan atau menggunakan kata-kata kasar kepada anak yang dianggap tidak begitu istimewa.

"Sebenarnya orangtua bisa meminimalkan kerusakan psikologis dan bekas luka emosional yang disebabkan karena favourite child syndrome (sindrom anak kesayangan). Salah satunya dengan mengakui bahwa Anda memang memiliki anak kesayangan," jelas Dr Libby.

Dr Libby menjelaskan pilih kasih harus secara terbuka dibahas dalam keluarga dan orangtua harus membuat dirinya lebih sadar dari hal-hal yang berpotensi merusak keharmonisan keluarga dan emosi anak.

sumber : detik.com

Setiap Orangtua Punya Anak Kesayangan?



                                                                 SHUTTERSTOCK  Orangtua tak mau mengakui kalau mereka punya anak kesayangan.

KOMPAS.com — Anak bagi orangtua mungkin tak ada bedanya. Perempuan dan laki-laki, anak pertama, kedua, ketiga, sulung, atau bungsu sama saja. Boleh jadi ini pengakuan yang diucapkan hampir semua orangtua. Namun, ucapan belum tentu sama dengan apa yang tersimpan di dalam hati. Penulis Jeffrey Kluger dalam bukunya The Sibling Effect menuliskan, orangtua sebenarnya punya anak kesayangan. Namun, mereka tak mengungkapkannya.

Menurut Kluger, 95 persen orangtua memiliki anak kesayangan. Sementara itu, menurutnya, para orangtua yang mengaku tak membedakan anak, atau tak memiliki anak kesayangan, cenderung berbohong.

"Saya meyakini 95 persen orangtua di dunia ini punya anak kesayangan, dan lima persen orangtua cenderung berbohong jika mereka mengatakan tak punya anak kesayangan," katanya.

Kluger melanjutkan, orangtua cenderung menyembunyikan perasaan ini kepada anak-anaknya. Alasan utamanya, tentunya menjaga perasaan semua anggota keluarga agar tak ada yang kecewa. Meski demikian, sebenarnya ayah atau ibu ingin sekali mengungkapkannya kepada anak favoritnya tersebut.

"Meski ingin menunjukkan, orangtua takkan pernah mengungkapkan siapa anak favoritnya," lanjutnya.

Kluger menulis bahwa mengenai anak favorit di keluarga ini juga dilandasi dari pengalaman pribadinya. Kluger, anak kedua, dan anak tertua dari empat bersaudara (semuanya laki-laki) di keluarganya merupakan anak favorit dari ayahnya. Sementara itu, anak ketiga dan si bungsu merupakan anak favorit ibunya.

Pengalaman Kluger berbeda dengan studi yang menemukan fakta bahwa anak favorit ayah biasanya adalah anak perempuan bungsu di keluarga. Sementara itu, secara umum, ibu memfavoritkan anak laki-laki tertua.

Anak tengah, kata Kluger, tak menjadi favorit orangtua, kecuali anak ini adalah satu-satunya anak laki-laki atau perempuan dalam keluarga. Meski demikian, sebenarnya jenis kelamin dan urutan lahir di keluarga tak berpengaruh banyak terhadap pilihan anak kesayangan bagi orangtua.

Bagi Kluger, adalah wajar jika orangtua memiliki anak favorit dalam keluarga. Perilaku narsisme genetik dimulai dalam diri seseorang ketika memiliki anak. Hal ini secara alami akan dialami setiap orang.

"Apa yang kita cari dalam diri seorang anak adalah sifat, karakter, dan keperibadian yang mengingatkan kita dengan diri kita sendiri," katanya.

Pernyataan Kluger bahwa sebagian besar orangtua punya anak favorit memang kontroversial. Terlebih lagi, hal ini bertolak belakang dengan survei terkini Parenting.com, yang menunjukkan hanya 19 persen ibu yang mengakui punya anak favorit dalam keluarga.

Meski begitu, Kluger meyakini, para orangtua nantinya takkan lagi merasa tabu untuk mengutarakan fakta bahwa memang mereka memiliki anak favorit. Ia yakin, akan semakin banyak orangtua yang berbicara terbuka mengenai anak kesayangannya.

Studi di Inggris menunjukkan fakta lain lagi. Sebanyak 88 persen responden, kaum ibu, mengakui memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara berbeda. Meski demikian, mereka mengakui perlakuan berbeda ini merupakan sebuah kesalahan. Sementara itu, lebih dari 55 persen ibu mengakui, mereka lebih dekat dengan anak laki-lakinya.

Bagaimana dengan keluarga di Indonesia? Apakah di keluarga Anda punya kecenderungan serupa, atau bisa jadi Anda adalah anak favorit ayah atau ibu Anda?

Sumber: dailymail.co.uk

Jumat, 01 Maret 2013

Agar si Buah Hati Tumbuh Sempurna



Propertykita: Di manakah sejatinya posisi ruang nan ideal bagi anak-anak? Dalam ilmu feng shui, peletakan sudut yang pas bagi si buah hati ini dipercaya dapat membawa rasa aman, sukacita, dan hidup sehat bagi perkembangan anak-anak.
Ilmu feng shui sendiri menuturkan bahwa peletakan sudut yang pas bagi anak ini terletak di sisi kanan hunian. Adapun warna yang ideal untuk wilayah ini adalah putih guna meningkatkan kreativitas. Dan untuk memperindah kawasan ini, bisa saja kita menggunakan lonceng angin, kristal, seruling bambu ataupun air mancur.
Selain putih, beberapa pilihan warna lain juga bisa digunakan untuk ruang anak. Semisal nuansa warna hijau lembut, yang melambangkan unsur kayu, dipercaya mendorong pertumbuhan dan perkembangan. Sementara warna kuning nan lembut, yang mewakili bumi, bakal menciptakan rasa stabilitas untuk anak yang aktif yang mulai menjelajahi dunianya.
Masalah dekorasi kamar anak-anak juga harus mendapat perhatian, semisal penempatan jendela agar sirkulasi udara segar senantiasa mengalir sempurna. Hal ini bisa dilakukan dengan secara rutin membuka jendela kamarnya.
Di samping itu, kita pun bisa menambahkannya aroma therapy sesuai kebutuhan. Selain meningkatkan energi, aroma ini juga dipercaya dapat menenangkan anak bila tengah lelah, rewel maupun gelisah. Cara lainnya guna meredam kenakalan si buah hati adalah dengan meletakkan foto orang tua dalam ruangannya.