Hipertensi dan diabetes militus
yang diderita calon ibu bisa menyebabkan kelainan bawaan pada janin. Apa saja
langkah-langkah yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk meminimalisasi risiko?
DIABETES militus (DM) dan hipertensi
merupakan salah satu penyulit medik yang dapat terjadi sebelum dan selama
kehamilan. Angka kejadian DM menurut Dr Mufti Yunus SpOG dari
RS Omni Alam Sutera, Tangerang berkisar di persentase 3%-5% dari semua
kehamilan. Sedangkan insiden hipertensi kira kira 5% dengan variasi yang
luas.
Diabetes Militus
Secara garis besar DM dalam
kehamilan bisa dibedakan dalam dua kategori. Pertama diabetes gestasi (ditemukannya
pada waktu hamil dengan persentase 90%) dan kedua diabetes pragestasi yang
meliputi tipe 1 dan 2 dengan persentase kasus kurang lebih 10%.
Dr Mufti menyebutkan, tingginya
gula darah pada ibu berkolersi langsung dengan peningkatan angka kematian dan
kesakitan perinatal. Perlu dipahami, risiko yang terjadi pada ibu hamil dengan
DM berkaitan dengan keadaan di mana glukosa melewati plasenta dengan cara
difusi, sehingga hiperglikema pada ibu akan berakibat hiperglikema pada janin.
Dampaknya bisa berupa pertumbuhan
janin yang besar makrosomia, hingga meningkatkan risiko kelambatan maturasi
paru, sehingga meningkat pula risiko Respiratory Distress Syndrome (darurat medis yang dipicu
gangguan atau kerusakan paru). Hiperglikema juga memunculkan risiko keguguran
pada trimester pertama, kelainan bawaan seperti jantung, susunan saraf pusat, dan
bisa menyebabkan kematian janin di dalam rahim.
Hipertensi
Seperti halnya DM, hipertensi juga
memunculkan risiko tinggi bagi keselamatan ibu dan janin. Hipertensi yang diderita
sebelum kehamilan bisa menjadi semakin parah saat kehamilan. Biasanya kondisi
seperti itu terjadi pada nulipara (perempuan melahirkan, tetapi anaknya selalu
meninggal ketika lahir) dan perempuan yang hamil di usia yang masuk dalam
kategori risiko tinggi.
“Kehamilan berisiko tinggi
terjadi pada perempuan yang hamil di atas usia 40 tahun. Bertambahnya usia akan
meningkatkan hipertensi dan akan diperberat dengan kondisi kehamilan. Perempuan
berusia lebih dari 40 tahun mempunyai risiko 3 kali lipat lebih besar dibandingkan
dengan wanita hamil usia 20 sampai 30 tahun,” papar Dr Mufti.
Dr Mufti menjelaskan, pada
dasarnya ada beberapa jenis hipertensi yang muncul saat kehamilan. Preeklampsia
(hipertensi yang muncul saat kehamilan) dan eklampsia (preeklampsia disertai
kejang) hanyalah dua dari sekian banyak kategori hipertensi yang sering
terjadi. Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi tersebut bisa mengancam
keselamatan ibu serta janin.
Hipertensi, terang Dr Mufti, bisa
menghambat pertumbuhan janin, menyebabkan kelahiran prematur, bahkan bisa berakhir
pada kematian janin. Sedangkan pada ibu bisa memunculkan multiple fungsi organ failure atau gangguan yang bisa
menyerang ginjal , hepar , jantung, sehingga bisa berakibat fatal bagi keselamatan
ibu.
Lalu, bagaimana solusi
meminimalisasi risko hipertensi dan DM saat kehamilan? Dr Mufti menegaskan,
perencanaan dan pemeriksaan sebelum kehamilan akan sangat membantu. Jika sudah
terlanjur hamil, tidak ada jalan lain selain segera memeriksakan kehamilan agar
dokter bisa mengambil langkah-langkah medis yang diperlukan. Jangan lalai
bunda!
Foto: www.dlife.com
Jenis Hipertensi Saat Kehamilan
Pada dasarnya ada beberapa jenis
hipertensi yang bisa terjadi saat kehamilan.
1.
Preeklampsia: hipertensi yang muncul pada usia kehamilan lebih dari
trimester II yang ditandai dengan
meningkatnya tensi darah di atas 140/90 mmHg,
dan protein urin lebih dari 300 mg/24 jam
2.
Eklampsia: preeklampsia yang disertai dengan kejang
3.
Hipertensi Gestasional: hipertensi yang muncul pada waktu hamil saja ,
tidak disertai peningkatan protein
urin. Tekanan darah akan turun kembali
kurang lebih 12 minggu setelah melahirkan.
4.
Hipertensi kronis: sebelum kehamilan tekanan darah sudah tinggi di atas
140/90 mmHg , dan setelah
melahirkan lebih dari 12 minggu tensinya tetap
tinggi.
5.
Superimpossed Preeklampsia: sebelum hamil tekanan darah sudah tinggi dan
pada usia diatas trimester
II ditemukan protein urin yang lebih dari> 300
mg/ 24 jam.
Apa yang Harus Diperhatikan?
1. Bagi ibu yang sudah menderita
DM dan hipertensi sebelum kehamilan, sebaiknya rencanakan kehamilan
dengan
melakukan konsultasi terlebih dahulu ke dokter kandungan.
2. Minimal diperlukan persiapan
selama 3 bulan sebelum kehamilan.
3. Melakukan pemeriksaan
antenatal teratur sehingga dapat meminimalkan risiko.
4. Pemeriksaan laboratorium dan
ultrasonografi untuk melihat perkembangan janin juga sangat diperlukan.
5. Sebelum kehamilan, calon ibu penderita DM harus meperhatikan:
- regulasi glukosa untuk
menurunkan risiko terjadinya kelainan bawaan dan keguguran.
- waspada terjadinya hipoglikemia.
- Perhatikan
penyuluhan dokter tentang rencana yang akan dan harus dilakukan.
- Perlu
mematuhi pemberian asam folat dari dokter, minimal 3 bulan dari sebelum kehamilan.
sumber : sangbuahhati.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar