Selasa, 26 Maret 2013

Bolehkah Penderita Hipertensi & DM Hamil?


Hipertensi dan diabetes militus yang diderita calon ibu bisa menyebabkan kelainan bawaan pada janin. Apa saja langkah-langkah yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk meminimalisasi risiko?


DIABETES militus (DM) dan hipertensi merupakan salah satu penyulit medik yang dapat terjadi sebelum dan selama kehamilan. Angka kejadian DM menurut Dr Mufti Yunus SpOG dari RS Omni Alam Sutera, Tangerang berkisar di persentase 3%-5% dari semua kehamilan. Sedangkan insiden hipertensi kira kira 5% dengan variasi yang luas.
Diabetes Militus
Secara garis besar DM dalam kehamilan bisa dibedakan dalam dua kategori. Pertama diabetes gestasi (ditemukannya pada waktu hamil dengan persentase 90%) dan kedua diabetes pragestasi yang meliputi tipe 1 dan 2 dengan persentase kasus kurang lebih 10%.
Dr Mufti menyebutkan, tingginya gula darah pada ibu berkolersi langsung dengan peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal. Perlu dipahami, risiko yang terjadi pada ibu hamil dengan DM berkaitan dengan keadaan di mana glukosa melewati plasenta dengan cara difusi, sehingga hiperglikema pada ibu akan berakibat hiperglikema pada janin.
Dampaknya bisa berupa pertumbuhan janin yang besar makrosomia, hingga meningkatkan risiko kelambatan maturasi paru, sehingga meningkat pula risiko Respiratory Distress Syndrome (darurat medis yang dipicu gangguan atau kerusakan paru). Hiperglikema juga memunculkan risiko keguguran pada trimester pertama, kelainan bawaan seperti jantung, susunan saraf pusat, dan bisa menyebabkan kematian janin di dalam rahim.
Hipertensi
Seperti halnya DM, hipertensi juga memunculkan risiko tinggi bagi keselamatan ibu dan janin. Hipertensi yang diderita sebelum kehamilan bisa menjadi semakin parah saat kehamilan. Biasanya kondisi seperti itu terjadi pada nulipara (perempuan melahirkan, tetapi anaknya selalu meninggal ketika lahir) dan perempuan yang hamil di usia yang masuk dalam kategori risiko tinggi.
“Kehamilan berisiko tinggi terjadi pada perempuan yang hamil di atas usia 40 tahun. Bertambahnya usia akan meningkatkan hipertensi dan akan diperberat dengan kondisi kehamilan. Perempuan berusia lebih dari 40 tahun mempunyai risiko 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan wanita hamil usia 20 sampai 30 tahun,” papar Dr Mufti.
Dr Mufti menjelaskan, pada dasarnya ada beberapa jenis hipertensi yang muncul saat kehamilan. Preeklampsia (hipertensi yang muncul saat kehamilan) dan eklampsia (preeklampsia disertai kejang) hanyalah dua dari sekian banyak kategori hipertensi yang sering terjadi. Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi tersebut bisa mengancam keselamatan ibu serta janin.
Hipertensi, terang Dr Mufti, bisa menghambat pertumbuhan janin, menyebabkan kelahiran prematur, bahkan bisa berakhir pada kematian janin. Sedangkan pada ibu bisa memunculkan multiple fungsi organ failure atau gangguan yang bisa menyerang ginjal , hepar , jantung, sehingga bisa berakibat fatal bagi keselamatan ibu.
Lalu, bagaimana solusi meminimalisasi risko hipertensi dan DM saat kehamilan? Dr Mufti menegaskan, perencanaan dan pemeriksaan sebelum kehamilan akan sangat membantu. Jika sudah terlanjur hamil, tidak ada jalan lain selain segera memeriksakan kehamilan agar dokter bisa mengambil langkah-langkah medis yang diperlukan. Jangan lalai bunda!

 Foto: www.dlife.com

Jenis Hipertensi Saat Kehamilan
Pada dasarnya ada beberapa jenis hipertensi yang bisa terjadi saat kehamilan.
1.       Preeklampsia: hipertensi yang muncul pada usia kehamilan lebih dari trimester II yang ditandai dengan 
       meningkatnya tensi darah di atas 140/90 mmHg, dan protein urin lebih dari 300 mg/24 jam
2.       Eklampsia: preeklampsia yang disertai dengan kejang
3.       Hipertensi Gestasional: hipertensi yang muncul pada waktu hamil saja , tidak disertai peningkatan protein
       urin. Tekanan darah akan turun kembali kurang lebih 12 minggu setelah melahirkan.
4.       Hipertensi kronis: sebelum kehamilan tekanan darah sudah tinggi di atas 140/90 mmHg , dan setelah
       melahirkan lebih dari 12 minggu tensinya tetap tinggi.
5.       Superimpossed Preeklampsia: sebelum hamil tekanan darah sudah tinggi dan pada usia diatas trimester 
       II ditemukan protein urin yang lebih dari> 300 mg/ 24 jam.
Apa yang Harus Diperhatikan?
1. Bagi ibu yang sudah menderita DM dan hipertensi sebelum kehamilan, sebaiknya rencanakan kehamilan
    dengan melakukan konsultasi terlebih dahulu ke dokter kandungan.
2. Minimal diperlukan persiapan selama 3 bulan sebelum kehamilan.
3. Melakukan pemeriksaan antenatal  teratur sehingga dapat meminimalkan risiko.
4. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi untuk melihat perkembangan janin juga sangat diperlukan.
5. Sebelum kehamilan,  calon ibu penderita DM harus meperhatikan:
- regulasi glukosa untuk menurunkan risiko terjadinya kelainan bawaan dan keguguran.
- waspada terjadinya hipoglikemia.
-  Perhatikan penyuluhan dokter tentang rencana yang akan dan harus dilakukan.
-  Perlu mematuhi pemberian asam folat dari dokter, minimal 3 bulan dari sebelum kehamilan.

sumber : sangbuahhati.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar