Ada banyak alasan mengapa si kecil suka mengisap jari, menggigit kuku,
mengupil, menggemeretakkan gigi, dan melakukan kebiasaan buruk lainnya. Kapan
orang tua harus mulai khawatir?
 |
| Foto: pick one's nose |
KEBIASAAN buruk seperti menggigit
kuku, bolpen/pensil, mengisap jari, menarik rambut, dan mengupil bisa terjadi
pada semua anak. Proses tumbuh kembang biasanya membuat anak gelisah. Mereka
belajar menghadapi perubahan dalam lingkungan rumah, sekolah, pertemanan, dan
situasi-situasi lain di luar kebiaaan, seperti perceraian, pertengkaran, pindah
rumah, dsb.
Dalam teori perkembangan psikoseksual dari Sigmund Freud, disebutkan sejak kelahiran sampai usia 1
tahun, anak memperoleh rasa nyaman dari stimulasi pada bagian oral/mulut. Lihat
saja, anak yang menangis akan diam
ketika disusui atau diberi empeng. Ada
juga anak yang baru bisa tidur setelah mengemut jari.Di usia ini, anak suka sekali memasukkan segala sesuatu ke
dalam mulut. Selain memberi rasa nyaman, cara ini juga dipakai untuk mengenali
segala benda di sekelilingnya.
Kebiasaan ini akan hilang
dengan sendirinya saat anak menginjak usia 2-3 tahun. Namun, pada sebagian
anak, terbawa hingga mereka besar. Atau
sempat hilang, kemudian muncul lagi karena dipicu beberapa situasi yang membuat
anak merasa tidak nyaman, bosan, stres, lelah, ngantuk atau bahkan sekadar
ingin tahu.
Pada masanya – dengan bantuan
orang tua -- biasanya, kebiasaan itu juga akan hilang dengan sedirinya. Namun,
ada juga yang terbawa hingga dewasa. Sebuah penelitian menyebutkan, sepertiga
anak usia sekolah dasar, melakukan salah satu aktivitas menggigit kuku,
mengisap jari, memilin rambut, dsb. Jumlahnya berkurang saat memasuki usia
remaja menjadi setengahnya. Dan dari jumlah itu, hanya sebagian kecil yang terbawa
hingga dewasa.
Penelitian di Amerika Serikat
juga meyebutkan lebih dari 40% anak-anak usia lima sampai 18 tahun melakukan kebiasaan
buruk tersebut. Ada
yang dipicu ketidaknyamanan, ada juga yang melakukan karena pengaruh lingkungan
dalam arti melihat contoh dari orang dewasa, khususnya kebiasaan mengupil di
tempat umum.
Psikolog Anak, Vera
Itabiliana, mengatakan biasanya kebiasaan itu berlanjut hingga dewasa lantaran
orang tua terkesan membiarkan anak dengan kesenangannya itu.
Kapan Harus Khawatir?
Berbahayakah kebiasaan buruk
itu? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Tidak berbahaya jika masih dilakukan
dalam batasan normal. Meski demikian, bukan berarti dibiarkan saja. Tetap butuh
pengarahan dari orang tua. Temukan penyebabnya, dan kemudian cari solusinya.
Menjadi berbahaya jika,
dilakukan anak secara berlebihan. Misalnya, mngisap jari terus-menerus, tanpa
peduli kondisi tangan kotor atau bersih. Menggigiti kuku meski sudah pendek,
hingga berdarah. Secara fisik, bisa menyebabkan infeksi. Secara psikologis,
anak butuh pertolongan karena tidak mampu mengendalikan kebiasaannya.
Jangan Marah!
Satu hal yang perlu diingat
orang tua ialah jangan terus marah saat mendapati anak melakukan kebiasaan
buruk. Sadari bahwa anak melakukan hal tersebut karena dorongan bawah sadar.
Saat ada gangguan, biasanya secara otomatis mereka mula menggigit kuku, bolpen,
mengisap tangan, menarik rambut, menggemeretakkan gigi, dll.Karena itu, percuma
saja Anda marah.
Cari Tahu Penyebabnya
Dari pada marah, cari tahu
penyebabnya.Vera Itabiliana menyarankan orang tua untuk mencermati kapan saja
kebiasaan tersebut muncul. Jika pada saat anak cemas, maka anak perlu dibantu
untuk mengatasi kecemasannya. “Pahami apa sumber stres atau kecemasan pada
anak, dan atasi sumber kecemasan tersebut. Bantu anak supaya dapat memahami dan
tidak lagi melihat sumber kecemasan sebagai ancaman.”
Langkah tambahan menurut Vera
bisa dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian anak. Misalnya diajak bermain,
menonton, mengobrol, dll. “Tapi pengalihan ini sifatnya hanya sementara. Orang
tua harus tahu apa penyebabnya, sehingga bisa disusun langkah untuk mengatasi,”
katanya.
Beri Pengertian
Beri pengertian bahwa apa
yang dilakukan bisa membahayakan. Tangan yang kotor masuk ke mulut bisa menjadi
sumber penyakit. Menggigiti kuku bisa menjadi medium masuknya kuman, bahkan
bisa membuat orang keracunan timah. Jelaskan pula secara ilmiah, misalnya, ada
penelitian yang menyebutkan, keracunan timah bisa mengganggu tumbuh kembang,
bahkan intelegensi anak.
Gunakan bahasa yang mudah
dimengerti. Anak-anak biasanya akan mencerna, dan berdasarkan perjanjian dan
diskusi dengan orang tua, secara perlahan bisa meninggalkan kebiasaan buruk
tersebut. Di sini yang terpenting, orang tua jangan pernah bosan memberitahu.
Solusi Alternatif
Untuk membantu mengatasi
kebiasaan buruk seperti menggigit kuku dan mengisap jari, ada produk-produk tertentu yang bisa digunakan.
Namun, biasanya dokter tidak menyarankan karena mengkhawatirkan kandungan dari
produk tersebut.
Misalnya, produk kutek atau
produk oles lain dengan rasa pahit yang sengaja dibuat supaya anak kapok alias
tidak mau lagi melakukan kebiasaan buruknya.
Atau bisa juga menggunakan
bahan natural untuk olesan, seperti dedaunan yang biasa digunakan untuk membuat
jamu dengan rasa pahit.
Soal solusi alternatif ini,
semuanya kembali diserahkan pada orang tua. Sebelum memutuskan, sebaiknya Anda
menyelidiki terlebih dahulu kandungan bahan dalam produk tersebut atau
konsultasikan dengan dokter.
Bantuan Profesional
Bila langkah-langkah tersebut
sudah dilakukan, tapi kebiasaan anak tidak hilang bahkan semakin parah, saatnya
Anda mencari bantuan professional. Menggigit kuku sampai berdarah, tidak mau
mengeluarkan jari dari mulut, mengisap jari sampai bengkak atau mengecil,
menarik rambut hingga rontok, jelas tidak hanya berbahaya secara fisik, tetapi menunjukkan
adanya beban psikologis yang harus segera diatasi. Saat itulah Anda perlu
memikirkan bantuan profesional seperti
psikolog.
TIPS
Lakukan
1. Penanganan untuk batita,tiap gigit kuku, raih tangannya, usap-usap, making eye-contact. Ajak ngobrol yang
menenangkn.
2. Setelah itu iringi
kegiatan bermain.
3. Jika harus menggunakan
alat bantu. Pakailah barang-barang yang
aman dari sisi kesehatan dan kenyamanan.
Jangan Dilakukan
1. Jangan biarkan kebiasaan
ini terlanjur menjadi kesenangan pada diri anak untuk menutupi rasa cemasnya.
2. Hindari perlakuan terlalu
keras untuk menyikapi kebiasaan ini meski tujuannya adalah supaya anak tidak
melakukannya lagi.
3. Perlakuan yang terlalu
keras justru akan membuat anak semakin cemas dan meningkatkan intensitas
kebiasaan ini.