Selasa, 19 Februari 2013

Pola Makan Si Kecil Bisa Diatur Sejak Usia 6 Bulan

Jakarta - Setelah berumur 6 bulan bayi sudah bisa diperkenalkan pada makanan. Meskipun belum tumbuh gigi, indra pengecapnya harus segera dilatih. Meskipun pada usianya ini ia juga harus tetap diberi susu, baik ASI atau susu formula.

Menyapih merupakan suatu proses berhentinya masa menyusui. Proses ini terjadi karena sang Ibu berhenti menyusui anaknya atau sebaliknya. Menurut WHO, pemberian ASI ekslusif hingga 6 bulan pertama. Sejak usia itu anak sudah bisa diperkenalkan pada makanannya.

Saat memberikan makanan padat dan susu harus diperhitungkan dengan benar. Jika diberikan terlalu awal bisa mengakibatkan si kecil jadi susah makan. Terkadang oarang tua memberikannya dengan cara berselang-seling dengan susu.

Pola makan yang benar untuk anak usia 6 bulan saat pagi bisa diberikan susu. Untuk sarapan bisa diberikan bubur bayi yang lumat. Pertengahan pagi bisa diberikan susu kembali. Kemudian saat siang, si kecil sudah bisa diberikan makanan lagi.

Tidak sampai disitu, untuk mencegah lapar si kecil bisa diberikan susu pada sore hari. Anda juga bisa mengajak si kecil untuk makan malam bersama, berikan makanan padat dalam porsi kecil cukup untuk mengenyangkan perutnya. Sebelum tidur jika diperlukan bisa diberikan susu lagi.

Tahapan pemberian makan ini, terkadang membuat si kecil menolak minum susu saat siang atau sore hari. Meskipun begitu para orang tua juga harus memastikan bahwa konsumsi susu si kecil tercukupi. Selama tahun pertama bayi harus minum susu sebanyak 600 ml per hari. Air susu tidak hanya berasal dari ASI tetapi bisa juga berasal dari susu formula.

Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood

Mengatur Pola Makan Membuat Anak Tetap Sehat Saat Berpuasa

Jakarta - Mengatur pola makan dan makanan penting agar tubuh tetap sehat saat berpuasa. Terutama bagi si kecil yang baru belajar menahan lapar dan haus. Saat Lebaran tibapun kita harus tetap mengontrol makan. Apa saja yang perlu diperhatikan?

Menurut Emilia J. Achmadi, ahli gizi, sahur lebih penting dibanding berbuka puasa karena setelah itu perut akan kosong selama 14 jam. Namun, seringkali anak sulit diajak makan saat sahur karena masih mengantuk. "Agar kebutuhan nutrisinya tetap tercukupi, katakan pada anak untuk menyantap nasi, sayur, protein, dan susu sedikit-sedikit. Fokus pada variasinya, bukan kuantitasnya," kata ahli gizi ini saat ditemui di acara buka puasa bersama Mead Johnson, Rabu (8/8).

Susu memang penting diminum saat sahur agar anak kuat berpuasa sampai Magrib. Namun, jangan biarkan anak hanya meminum susu dan tidak menyentuh makanan lainnya. Pasalnya, meski padat gizi, susu memiliki kekurangan, yakni bentuknya cair.

Anak juga butuh untuk mengunyah dan menelan makanan padat untuk perkembangan otot. Karena itu, harus seimbang. "Usahakan anak mengonsumsi tiga warna dan jenis buah dan sayur dalam sehari," ujar Emilia. Pastikan karbohidrat, serat, dan protein terdapat dalam menu sahur Anda dan si buah hati. Selain itu, hindari konsumsi kecap, saus, atau makanan yang banyak mengandung garam karena dapat menyebabkan dehidrasi.

Saat berbukapun asupan perlu diperhatikan. Awali dengan meminum air bersuhu hangat dengan sedikit gula. "Jangan langsung meminum air dingin agar perut tidak berkontraksi," Emilia menganjurkan. Kemudian lanjutkan dengan menyantap tiga buah kurma.

Menurut Emilia, kurma adalah buah sempurna yang mengandung serat, vitamin, dan gula. Meski demikian, kalorinya sangat tinggi. Per butir kurma kecil mengandung 30-50 kalori, sementara yang besar bisa mencapai 70-80 kalori per buah. "Menyantap tujuh buah kurma sama kalorinya dengan dua potong ayam goreng paha bawah," jelas Emilia. Maka, batasilah konsumsinya hingga tiga butir saja saat berbuka.

Setelah solat Magrib, Anda dan si kecil dapat melanjutkan makan malam yang terdiri dari karbohidrat dan protein. Namun, jangan makan berlebihan. Saat berpuasa, lambung menyusut sehingga Anda bisa sakit perut atau diare kalau langsung makan terlalu banyak.

"Puasa dapat menyehatkan pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menyeimbangkan produksi enzim jika dilakukan dengan benar. Namun, kalau anak makan berlebihan saat berbuka, daya tahan tubuhnya malah menurun," Emilia mengingatkan.

Untuk mengatasi dehidrasi karena seharian tidak minum, sajikan sup, susu, atau es loli, jeli buah, dan minuman dengan es batu sebagai pencuci mulut. Jangan berikan pemanis berlebihan. Rasa manis alaminya dapat diperoleh dari jus buah agar tetap sehat.

Fitria Rahmadianti - detikFood

Gara-gara Makanan dan Minuman Ini Gigi Anak Bisa Rusak

Jakarta - Kesehatan gigi sangat berkaitan erat dengan pola makan yang baik. Melindungi gigi anak dari pembusukkan perlu dilakukan sejak dini. Selama masa pertumbuhan, gigi anak masih rentan terhadap kerusakan. Karenanya orang tua perlu cermat dalam pemberian makanan.

Minuman manis dan bersoda bisa jadi salah satu pemicu kerusakan gigi pada anak. Tidak hanya itu beberapa jenis makanan dan minuman lainnya juga bisa jadi penyebab gigi berlubang pada anak, seperti berikut ini.


Biarkan Si Buah Hati Memilih Makanannya

Jakarta - Waktu makan bisa menjadi saat yang paling menyebalkan bagi anak sekaligus menggemaskan bagi orang tua. Kita ingin agar anak mengonsumsi makanan sehat dan bernutrisi, sementara anak hanya mau makan makanan yang ia suka. Seringkali timbul pertengkaran karena masalah sepele ini.

Rhiana Maidenerg, penulis artikel 'Let Them Eat Cake! One moms laid-back stance on her kids diets' di Babble.com, berpendapat bahwa sebenarnya pertengkaran tersebut tidak perlu terjadi.

Seharian anak sudah diberi tahu apa yang harus dikerjakan, baju apa yang harus dipakai, dan kapan si kecil harus tidur. Namun, kita sulit mengendalikan mereka saat waktu makan tiba. Si kecil merasa inilah saatnya ia berkuasa menentukan apa yang akan masuk ke mulutnya.

Selain itu, semakin kita berusaha mengontrol makanan sang buah hati, semakin lemah kendali kita sebenarnya. Peneliti dari Pennsylvania State University menemukan bahwa membatasi akses anak terhadap 'makanan-makanan terlarang' justru meningkatkan hasrat mereka akan penganan tersebut. Singkatnya, semakin dilarang, semakin menggoda.

Dalam studi tersebut, peserta yang terdiri dari anak-anak dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberi akses yang sangat terbatas terhadap sestoples cookies, sementara grup lainnya diperbolehkan mengambil cookies sebanyak yang mereka mau. Ternyata, konsumsi cookies pada kelompok yang dibatasi lebih banyak tiga kali lipat dibanding grup kedua. Biasanya mereka ngemil sembunyi-sembunyi.

Melarang makanan tertentu sama buruknya dengan memaksakan anak menyantap makanan. Pada studi terpisah yang juga dikerjakan Pennsylvania State University, peneliti menemukan bahwa mendesak anak memakan makanan tertentu semakin mempertinggi kemungkinan sang buah hati nantinya membenci makanan tersebut.

Lantas, sikap seperti apa yang harus kita ambil? Maidenerg mengutip omongan Dr. Amy Maidenberg dari Sage Pediatrics bahwa tanda anak cukup mendapat nutrisi untuk kebutuhannya saat ini adalah berenergi dan bertumbuh kembang dengan baik. Jadi, kalau anak terlihat tak bersemangat dan pertumbuhannya terganggu, barulah kita perlu khawatir akan asupan gizinya.

Anak tentu akan makan jika merasa lapar. Makanya, jika Anda membiarkan anak memilih dan bukannya memicu pertengkaran, keberhasilan bisa jadi ada di tangan Anda. Ellyn Satter, pengarang buku 'Child of Mine: Feeding with Love and Good Sense', berpendapat bahwa perlu ada pembagian tugas antara orangtua dan anak. Anda menentukan makanan apa dan kapan anak harus makan, sementara sang buah hati menentukan apakah ia mau makan dan seberapa banyak yang ia akan santap.

Selalu tawarkan beberapa macam hidangan, di mana sebagian merupakan makanan baru dan bernutrisi. Kemudian, biarkan si kecil memilih mana yang akan ia makan.

Jumat, 15 Februari 2013

Tumbuhkan Kreativitas Si Kecil


Anak-anak tidak hanya perlu dididik untuk memahami pelajaran, melainkan juga kreativitas. Dari sinilah akan muncul daya inovasi pada anak.

ADA satu pesan menarik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh saat menyampaikan pidato pada acara Anugerah Peduli Pendidikan 2012 di Jakarta, 22 November 2012. Ia mengatakan bahwa pendidikan harus juga menanamkan nilai-nilai kreativitas pada anak bangsa.

"Saat ini sedang dilakukan penyusunan kurikulum dan akan memasukkan nilai-nilai kreativitas. Pendidikan itu harus menanamkan nilai-nilai kreativitas," ujarnya.
Tidak salah memang. Mantan Rektor ITS itu menjelaskan kreativitas itu dua pertiganya dipengaruhi oleh pendidikan, sedangkan inteligensia itu dua pertiganya dipengaruhi oleh genetik. "Membangun kreativitas itu mulai dari pendidikan sebagai motor inovasi," tegasnya.
Dewi Hughes, Duta Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan kreativitas pada anak perlu digali. Salah satunya dengan bermain.  Bagi anak bermain memiliki arti penting di masa pertumbuhan karena itu juga merupakan bagian dari pendidikan.
Karena itu, orang tua harus pandai memilih alat-alat bermain yang tepat untuk anak. "Orang tua harus dapat memilih produk yang unik yang dapat meningkatkan sisi kreativitas serta bernilai edukatif," kata Dew, dalam seminar Parenting Creativity for Kids Faber-Castell di Jakarta pertengahan November lalu.
Banyak orang tua kurang menyadari  bahwa bermain adalah instrumen penting dalam perkembangan anak, baik motorik maupun sensorik. Bermain dapat membangun sisi komunikasi, motorik, kinestetik, kemampuan analisa dan bahasa seorang anak. **
--------------------------------------------------------------------------------------------

Apa yang Harus Dilakukan


  1. Biarkan anak bertanya
Orang tua harus menciptakan suasana agar anak terbiasa bertanya dan berpendapat mengenai berbagai hal. Jangan biarkan anak takut bertanya. Suasana ini sangat mendukung untuk tumbuhnya kreativitas.
  1. Tekuni hobi dan kesenangan
Hobi merupakan sarana untuk menyalurkan kreativitas. Berikan kesempatan kepada anak untuk menyalurkannya.
  1. Kurangi larangan
Saat berkomunikasi dengan anak, kurangi kata-kata yang mengandung unsur larangan yang bisa mencegah anak mencoba-coba melakukan sesuatu. Ini penting untuk menumbuhkan inisiatif.
  1. Trial and error
Kreativitas berarti pula percobaan akan hal-hal yang baru. Karena itu, jika anak berbuat kesalahan, biarkan ia memperbaikinya dan mencobanya untuk membuatnya benar. Kreativitas tumbuh dari orisinalitas bukan karena benar atau salah.
  1. Apresiasi selalu
Berilah selalu penghargaan pada apa yang sudah dibuat oleh anak. Ini penting untuk menumbuhkan percaya diri. 

Setiap Anak Dilahirkan Jenius


Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama. (Buckminster Fuller/Futuris/Insinyur/Penulis/Desainer-1895-1983)

Foto: theupbeatdad.com
SEJUMLAH penelitian ilmiah menunjukkan bahwa begitu sang buah hati lahir, Tuhan sudah membekali 1 triliun neurons atau sel saraf. Setelah itu, orangtualah yang berperan memberi stimulasi untuk merangsang perkembangan sel neurons yang terkait dengan kecerdasan anak.

Sayangnya, seiring perkembangan waktu, ketidak tahuan orangtua dan kondisi lingkungan kerap kali menjadi penghambat perkembangan kejeniusan anak. Hal ini sering diungkapkan psikolog Inggris Tony Buzan dan Thomas Amstrong Phd dari American Institute for Learning and Human Development.
Keduanya sepakat, di awal pertumbuhan, orangtua berperan penting dalam membantu melestarikan kejeniusan yang dikaruniakan Tuhan sejak lahir. Namun, terkadang pola pendidikan, tekanan lingkungan, kemiskinan, budaya, dan banyak faktor lain menjadi penghambat. Keduanya juga menyatakan bahwa dengan penanganan yang benar, maka  kecerdasan anak yang seringkali diukur dengan IQ bisa terus ditingkatkan. Meski demikian, mereka tidak menyetujui jika IQ menjadi satu-satunya ukuran kecerdasan seorang anak.
Masalah standar kecerdasan yang menggunakan angka IQ memang kerap menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Ada yang setuju dengan pentingnya IQ, namun banyak pula yang menolak teori tersebut, hingga lahirlah teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligence yang dipelopori psikolog Howard Gardner.  Gardner memperkenalkan 8 kecerdasan majemuk yang meliputi kecerdasan spasial, linguistik, matematis, kinestetis, musik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
Teori mana yang Anda pilih? Apa pun yang Anda pilih, para ahli sepakat perkembangan kecerdasan dan kejeniusan sang buah hati sangat tergantung pada peran orangtua.  Praktisi pemerhati anak dan Senior Lecture Tiga Raksa Agung Mulyawan juga mengungkapkan pentingnya peran orangtua untuk memberi stimulas awal pada sang buah hati.
Secara teori, katanya, jumlah sel neuron yang diberikan Tuhan akan terus bertumbuh hingga anak berusia 2 tahun. Setelah itu, fasenya berganti dengan pertumbuhan jaringan antar-sel baru. Nah, perkembangan jaringan antar-sel ini sangat dipengaruhi stimulasi yang diberikan orangtua dan orang-orang lain di sekitar anak. Semakin baik dan banyak stimulus yang diberikan, maka semakin kaya pertumbuhan jarngan yang terjadi. “Itu sebabnya, muncul istilah usia emas pada anak-anak. Pada usia emas itulah orangtua memiliki peran yang paling besar,” terangnya ketika menjadi pembicara dalam Seminar Born to be Genius di RS Meilia, Cibubur.
Karena begitu besarnya pengaruh orangtua dalam menstimulus kecerdasan sang buah hati, Agung menyarankan agar para ayah dan bunda meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama sebagai bentuk stimulus. Mulai dari hal sederhana seperti mendongeng sebelum tidur, sampai bentuk stimulus lain yang diberikan sesuai perkembangan usia.
Agung kemudian memberi panduan berupa 8 langkah terukur yang bisa dilakukan orangtua, yaitu segera lakukan stimulus sedini mungkin, implementasikan harus penuh keceriaan, pahami bahwa orangtua adalah guru pertama anak, pahami juga bahwa pada dasarnya anak adalah pembelajar yang luar biasa. Selain itu, orangtua juga harus terus menggali rasa ingin tahu anak, bergerak selaras dan lebih cepat dalam melakukan stimulasi, jangan pernah bosan mengulangi stimulus, dan jangan lupa tumbuhkan rasa percaya diri pada anak dengan cara menghargai aktivitas positif yang mereka lakukan.
----------------------------------------------------------------------------
TIPS untuk Orangtua
ADA 8 langkah terukur yang bisa dilakukan orangtua dalam menstimulus kecerdasan anak. Berikut penjabarannya:
1.  Mulai Segera
Berapa pun usia sang buah hati, mulailah memberi stimulus dari sekarang. Beberapa ahli seperti Prof Utami Munandar, Dr Seto Mulyadi dan Dr Keith Osborn dari Universitas.Georgia, mengungkapkan  tiga tahap Pembelajaran pada anak.
  • 0 – 4 tahun mencapai 50% (daya serap anak mencapai 50%, sehingga sering disebut The Golden Age )
  • 4 –  8 tahun mencapai 80% (daya serap anak berkurang, hanya 30%)
  • 8 -  18 tahun mencapai 100% (kemampuannya hanya 20%, yaitu sisanya saja)
2. Buatlah belajar  menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan
  • Berikan Bimbingan yg tepat dirumah, contoh buku-buku yang terkonsep dan tertata  dengan api, big block, word picture, puzzle, dan mainan edukatif lainnya.
  • Meningkatkan Bakat anak secara dini, misalnya, jika anak suka main musik segera ikut sertakan les musik. Jika suka bermain sepakbola/futsal misalnya, silakan masukkan ke klubsepakbola/futsal.
  • Bahkan pada usia satu tahun, stimulus terkait membaca dan matematika sudah bisa diajarkan. Tentu saja harus disesuaikan dengan usia.

3. Orangtua adalah guru pertama bagi sang buah hati
     Bagaimana pun, orangtua adalah guru terbaik untuk memberikan stimulus di usia emas. 
4. Pahami bahwa anak adalah pembelajar yang luar biasa.
  • ·    Jangan anggap remeh anak Anda untuk belajar berbahasa, membaca,  memperbanyak kosakata dll, karena anak Anda memiliki bakat yang   luar biasa.
  •  Kenalkan anak Anda pada berbagai subjek. Lakukan Bed Time Story tidak lebih dari 15    menit setiap hari, karena menurut  para ahli anak  usia 0-6 tahun rentang perhatiannya masih rendah. Oleh karena  itu, orangtua bisa membantu dengan kegiatan Mendongeng.

5. Terus gali rasa ingin tahu anak
Bisa dilakukan dengan memberikan apa yang anak suka. Misalnya, suka gambar binatang, maka berilah buku bacaan dengan gambar hewan.
6. Bergerak selaras dan lebih cepat dalam melakukan stimulasi
Ini penting dipahami karena orangtua berkejaran dengan usia emas pada anak.
7.  Jangan pernah bosan mengulang stimulus
  • Jangan menyerah jika gagal memberi sebuah stimulus. Lakukan lagi dan lagi.
  • Percayalah, jika sudah waktunya, anak Anda pasti bisa.

8. Tingkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak
  • Jauhi kritik, jangan sengaja mengetes anak
  • Beri penghargaan pada setiap aktivitas positif yang mereka lakukan. Cukup dengan pujian, pelukan, ciuman, mengajak bermain ke suatu tempat yang mereka suka, dll.

Amankah Telur untuk Bayi?



 SEBAGIAN besar anak-anak menyukai telur dan olahannya. Jika dikonsumsi dalam jumlah cukup, telur memang akan memberi banyak manfaat. Maklum, telur mengandung banyak vitamin, protein, dan ada yang diperkaya dengan omega 3 yang dibutuhkan untuk meningkatkan kecerdasan. 
Masalahnya, sejak usia berapa telur aman diberikan pada sang buah hati? Banyak dokter menyarankan setidaknya setelah anak memasuki fase mengkonsumsi makanan padat. Itu berarti sekitar 8 bulan. Namun, sebagian dokter menganjurkan hanya memberi kuning telur, terutama jika ada riwayat alegi dalam keluarga.
Saran itu mengacu pada cukup banyaknya kasus yang menunjukkan adanya alergi protein putih telur pada anak di bawah satu tahun. Sedangkan untuk kuning telur relatif aman karena jarang ditemukan kasus alergi.
Namun, sejak 2008, muncul penelitian yang menyebutkan tidak masalah jika bayi yang sudah memperoleh makanan padat mendapat konsumsi telur utuh. Pemberian telur utuh bisa dicoba dengan catatan tidak ada riwayat alergi di dalam keluarga. Penelitian tersebut menyebutkan, penundaan tidak akan banyak berguna dan tidak sebanding dengan dahsyatnya manfaat yang dikandung dalam satu butir telur.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia pada 2010 mendukung penelitian tersebut. Para peneliti menemukan fakta bahwa jika telur diberikan setelah usia 1 tahun, maka kemungkinan untuk pengembangan alergi pada anak justru lebih besar. Nah, sekarang, apa pilihan para bunda? Apa pun pilihannya, sebaiknya ketahui terlebih dahulu riwayat alergi dalam keluarga dan lakukan konsultasi dengan dokter anak.
Jika, bunda memutuska untuk memberikan telur sebelum usia satu tahun, ada baiknya menyimak beberapa tips yang kami sarikan dari berbagai sumber. Pastikan selama empat hari berikut setelah mengkonsumsi telur utuh, jangan beri makanan jenis baru pada sang buah hati. Artinya, berikan saja makanan yang sudah biasa dikonsumsi, sehingga bunda bisa mengamati dengan lebih akurat ada atau tidaknya alergi telur. Bila ternyata si kecil menunjukkan gejala alergi, segera bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Pilihan lain, bunda bisa memilih jalan tengah dengan memberikan kuning telur terlebih dahulu. Jika dalam keluarga ada riwayat alergi, maka cara yang aman adalah dengan merebus telur hingga matang, baru kemudian memisahkan putih dan kuning telur. Pemisahan saat telur masih mentah, tetap mengandung risiko, karena besar kemungkinan putih telur tetap terbawa.

Apa pun pilihan bunda, sekali lagi sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter yang sudah biasa menangani sang buah hati. Jangan lupa ketahui riwayat alergi dalam keluarga, karena informasi tersebut sangat membantu dokter dalam mengambil keputusan.
Foto: wisegeek.com
RESEP
Scrambled egg
(sumber: weaningbabyfood.com)
Bahan:
1 kuning telur
1 satu sendok makan ASI atau susu formula
Cara membuat:
- Pisahkan putih dan kuning telur.
- Campur kuning telur dengan susu, kocok hingga tercampur rata.
- Panaskan wajan dengan api sedang, masukkan sedikit minyak atau mentega tawar kemudian masukkan campuran telur yang sudah disiapkan.
- Aduk dengan spatula sampai benar-benar matang.
- Setelah matang, Anda bisa menambahkan dengan bahan segar lain, misalnya keju atau bahan  lain yang aman untuk bayi.
Mashed Potatoes
(sumber: http://recipes4babies.com)
Bahan:
2 kentang ukuran sedang
1 sendok teh butter
4 sendok teh keju
2 sendok sour cream
1 kuning telur
Cara membuat:
Rebus kentang hingga matang, haluskan bersama kuning telur yang sudah dimasak matang, keju, butter dan sour cream.

Kapan si Kecil Boleh Belajar Membaca?


Kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk mengajarkan sang buah hati mengenal  warna, angka, dan huruf?

Foto: relevantchildrensministry.com
PADA dasarnya, usia di bawah lima tahun (balita) adalah masa yang paling baik untuk menerima informasi. Banyak ahli sepakat, masa balita adalah masa yang baik untuk menerima aneka informasi seperti mengenal warna, berhitung, dan membaca. Bahkan, pada usia delapan bulan, bayi sudah bisa menerima informasi semacam itu.

Banyak manfaat bila orang tua mengajarkan hal-hal seperti itu kepada bayi. Antara lain, bayi akan lebih fokus, memiliki konsentrasi, dan mampu berpikir. Meskipun demikian, tidak mudah mengajarkan hal seperti itu kepada bayi. Setidaknya diperlukan kesabaran dan keuletan yang lebih banyak dari para orang tua. 

Mengajarkan warna
Mengajarkan warna kepada bayi dilakukan secara tidak langsung, tidak seperti kepada anak-anak di usia sekolah. Bayi biasanya suka dengan benda-benda yang beraneka warna. Karena itu, perlhatkanlah benda kepada mereka. Misalnya, boneka binatang atau tokoh-tokoh kartun yang lucu.
Melalui benda itu, orang tua harus menjabarkan setiap warna sehingga sang bayi bisa lebih mencerna pengajaran warna yang anda berikan. Dalam hal ini, carilah benda yang memiliki warna cerah. Sebab, bayi akan lebih fokus pada warna-warna seperti itu.
Buku-buku bergambar juga bisa dijadikan alat untuk mengajarkan warna. Carilah buku yang menarik dengan banyak warna. Perlihatkan kepada bayi, gambar-gambar itu.
Belajar membaca
Kalangan psikolog sependapat bahwa di usia delapan bulan, bayi sudah bisa diperkenalkan kepada huruf yang menjadi dasar untuk bisa membaca. Belajar membaca di sini maksudnya bukan membaca seperti anak-anak di sekolah. Sebab, membaca membutuhkan kemampuan gabungan, yakni memahami dan mengabungkan makna. Bayi tentu belum bisa melakukannya.
Karena itu, belajar membaca di usia balita dimaksudkan untuk menumbuhkan minat baca pada bayi agar kelak terbiasa dengan bacaan. Caranya dengan memperlihatkan kepada bayi itu buku-buku, seperti uku cerita atau dongeng.
Bayi hanya bisa mengenali huruf secara tidak langsung. Artinya, mereka hanya tahu bentuk tanpa memahami maknanya. Karena itu, orang tua tidak perlu ngotot bayi ada bisa membaca buku cerita. Penelitian membuktikan bahwa anak yang terbiasa melihat buku di rumah cenderung memiliki minat baca yang lebih besar dibandingkan anak yang jarang melihat buku. 
Para ahli perkembangan punya pandangan berbeda tentang metode belajar membaca, namun pada intinya ada tiga metode yang bisa dipilih. Pertama, teknik kata global atau metode holistik. Misal, ada gambar sebuah apel dan di bawahnya ada tulisan "apel".
Kedua, metode ABC, yaitu mengenalkan huruf per huruf. Orang tua memberitahukan kepada anak ini huruf A, itu huruf B. Ketiga, metode fonetik atau sistem suku kata. Misal, "b-a" sama dengan "ba", "b-u" sama dengan "bu"; bila digabung jadi "babu".
Akrabkan di telinga
Bayi setiap hari pasti mendengar nama benda yang selalu melekat dengannya. Susu misalnya. Gunakanlah kata-kata seperti ini untuk mengajarkan membaca. Orang tua harus sering memperlihatkan gambar botol susu dengan tulisan “Susu” di bawahnya. Tujuannya, bayi itu memiliki memori mengenai huruf dan benda yang dimaksud huruf itu.
Perlu diingat, kata-kata yang diajarkan kepada bayi harus yang mudah dicerna dan akrab di telinganya. Kata-kata sulit yang jarang didengar sebaiknya dihindari. Itulah mengapa, buku anak selalu mengangkat sekitar kehidupan anak. Inilah yang membuat anak belajar lebih cepat.
Perlu pula diingat bahwa proses belajar bersama anak harus selalu menyenangkan. Jangan perlakukan anak seperti murid. Sebab, yang diharapkan dari mengajar bayi adalah rangsangannya. Rangsangan itulah yang akan menempel di otaknya. Kelak, ia akan mengingat kembali apa yang pernah ia terima semasa bayi. Karena itu, ciptakanlah suasana menyenangkan. 
Belajar membaca sejak bayi tidak akan dirasakan instan tapi efeknya akan terasa di kemudian hari. Penelitian di negara maju membuktikan anak lebih cepat bisa membaca ketimbang anak lain yang tak belajar sejak dini.

9 Karakter yang Perlu Ditanamkan pada Anak


 

ORANGTUA mana yang tidak ingin melihat buah hatinya sukses secara mental, finansial, dan kehidupan sosial? Saat itu terjadi, kebahagiaan Anda sebagai orangtua akan terasa lengkap. Tapi untuk mencapai semua itu butuh persiapan dan perjuangan. Butuh perhatian dan persiapan matang agar sang buah hati bisa meraih masa depan dan memiliki kemampuan bersaing dan menghadapi tantangan masa depan.
Aspek pendidikan formal, agama, karakter, dan pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan hal dasar yang bisa dimulai sejak usia 0-6 tahun. Pendidikan diusia dasar ini selalu disinggung para psikolog sebagai awal dari pentingnya perjalanan seseorang.


Pendidikan Karakter 

yang perlu diingat, pendidikan formal tidak akan cukup membentuk pribadi anak agar memiliki daya saing tinggi serta tangguh di masa depan. Ada yang perlu diperhatikan, yaitu pendidikan karakter.
Sebenarnya, gagasan pendidikan karakter ini bukan hal baru. Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, “Jika pembangunan karakter tak berhasil, bangsa Indonesia hanya akan menjadi bangsa kuli”. Demikian seperti dikutip dari buku Karakter  Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang (Sumarno Sudarsono, 2009).
Melihat kondisi saat ini, pendidikan demi pembangunan karakter kian mendesak. Tawuran pelajar, kriminalitas dan korupsi, merupakan salah satu tanda lemahnya pendidikan karakter. Ratna Megawangi, praktisi pendidikan holistik berbasis karakter, selalu menekankan pentingnya pendidikan karakter karena terkait dengan kemajuan suatu bangsa.
Pendidikan karakter di sini meliputi pelajaran moral dan agama. Kedua pelajaran tersebut wajib diberikan pada anak-anak di sekolah formal maupun informal. Masalahnya, kebanyakan mata pelajaran itu diberikan hanya sampai anak tahu dan hapal, tapi tidak mengalirkan pengetahuan itu hingga menjadi sebuah karakter. Akibatnya, tawuran terus terjadi, demikian pula dengan korupsi.
Persoalan lainnya, pendidikan anak terkadang menjadi ‘rebutan’. Sejumlah orangtua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada guru. Padahal, orangtua memiliki peran besar terhadap persoalan ini.
Ada sembilan pilar karakter yang perlu dibentuk pada anak-anak. Kesembilan pilar itu sangat mendasar, hingga tidak mungkin bisa terlaksana, jika hanya diserahkan pada guru di sekolah. 
Sembilan pilar itu adalah:
1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya;
2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
3. Kejujuran
4. Hormat dan santun
5. Kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama
6. Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
7. Keadilan dan kepemimpinan
8. Baik dan rendah hati
9. Toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Pola Asuh Tepat untuk Anak Kembar


Mempunyai buah hati kembar tentu menyenangkan. Namun, orangtua sebaiknya mengetahui pola asuh yang tepat agar si kembar tumbuh menjadi pribadi yang sehat.



MELIHAT anak kembar hampir selalu menggemaskan. Kehadiran mereka di mal dan pusat keramaian lain kerap menyedot perhatian. Apalagi orangtua sering membuat tampilan serupa, baik baju mau pun rambut bagi kembar sejenis. 
Namun, apakah bisa dibenarkan kebiasaan mendandani si kembar dengan pakaian dan gaya serupa? Direktur Lembaga Konsultasi Psikologi Daya Insani Sani Budiantini Hermawan Psi, mengatakan memperlakukan si kembar dengan cara yang sama tidak sepenuhnya  bisa dibenarkan. Jika selalu disamakan, mereka tidak bisa berkembang sebagai pribadi berbeda. “Padahal meski kembar, mereka adalah dua orang berbeda, punya keunikan dan kebutuhan sendiri-sendiri,” katanya.
Meski menyarankan untuk memperlakukan si kembar secara berbeda, namun Sani juga mengingatkan agar orangtua memberi ruang kebersamaan, karena ada kalanya mereka butuh waktu untuk berdua. “Harus dimaklumi, anak kembar biasanya memang punya ikatan kuat dan terkadang memiliki cara berkomunikasi sendiri yang tidak dimengerti orangtua.” Paparnya.
Pola Asuh Sehat
Kuatnya ikatan antara anak kembar juga dikemukakan Joan A Friedman PhD. Meski demikian, penulis buku Emotionally Healthy Twins  ini tetap menyarankan agar orangtua memperlakukan mereka sebagai individu bukan pasangan. 
Saran itu didasarkan pada pengalaman pribadi sebagai anak kembar dan orangtua anak kembar, diperkuat dengan berbagai penelitian yang sudah dilakukan.  Memperlakukan si kembar sebagai individu menurut Joan akan membuat merekar lebih bahagia dan sehat secara emosi. 
“Fakta dan penelitian membuktikan bahwa memberi kesempatan pada anak kembar untuk tumbuh menjadi pribadi masing-masing justru akan mengembangkan keintiman. Itu jauh lebih baik dibanding terus memperlakukan mereka sebagai satu kesatuan, sehingga justru memunculkan kedekatan yang melumpuhkan alias tidak sehat secara emosional,” papar Joan yang dikenal sebagai pelopor pendekatan baru pola asuh untuk anak kembar, ketika diwawancara doubleupbooks.com.
Perlu Kesadaran Orangtua
Dari pengalaman yang didapat sebagai konsultan, Joan kerap kali menjumpai keengganan, keraguan, bahkan kemarahan orangtua, ketika disarankan untuk memperlakukan si kembar sebagai individu berbeda. Sebagian orangtua merasa gagal jika anaki kembarnya terpisahkan, sebagian lagi merasa terancam eksistensi dari sebutan yang sudah disandang, yakni sebagai orangtua anak kembar. Akibatnya, saat buah hati kembar mereka ingin menjelajah menjadi individu berbeda, kerap kali dihinggapi perasaan bersalah yang bisa berkembang menjadi  frustasi dan kemarahan.
Itu sebabnya, orangtua sebaiknya membantu anak kembarnya dengan cara menciptakan ruang pertumbuhan individu. Misalnya, menghabiskan waktu sendirian dengan masing-masing kembar dan tidak  selalu memperlakukan serta membelikan sesuatu yang sama bagi mereka.
 “Cara ini juga akan membantu orangtua untuk menetralkan kekuatan dua anak kembar  yang pada dasarnya memang punya ikatan unik. Ikatan itu akan menjadi kekuatan, sehingga Kerap kali orangtua merasa ditinggalkan dan tidak dibutuhkan, bahkan merasa tidak berdaya mengendalikan anak kembarnya. Entah itu dalam penerapan disiplin atau apa pun. “
TIPS
  1. Agar si kembar tumbuh menjadi individu dengan pribadi sehat, orangtua disarankan jangan pernah melakukan perbandingan. Hubungan yang unik biasanya akan diikuti dengan sesitivitas.  Situs psychologytoday.com bahkan menyarankan agar orangtua lebih peka dengan tidak selalu menyebut urutan yang sama untuk anak kembarnya. Misalnya, saat menyebut nama si kembar A dan B, harus diimbangi dengan sebutan B dan A.
  1. Beri kebebasan memilih mainan apa yang hendak mereka lakukan. Misalkan salah satu ingin bermain balok susun dan satunya lagi ingin bermain jual beli, janganlah dicegah. Biarkan mereka melakukan hal tersebut tanpa pasangan kembarnya.
  1. Ikuti keinginan anak jika ingin dipisah, baik itu sekolah, kamar tidur, minat, hobi, dsb.
  1. Pola pengasuhan lebih diutamakan pada keunikan pribadi masing-masing.
  1. Mengembangkan minat dan bakat dan jangan sungkan untuk memberi apresiasi. 

Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak

Ada banyak alasan mengapa si kecil suka mengisap jari, menggigit kuku, mengupil, menggemeretakkan gigi, dan melakukan kebiasaan buruk lainnya. Kapan orang tua harus mulai khawatir?


Foto: pick one's nose


KEBIASAAN buruk  seperti menggigit kuku, bolpen/pensil, mengisap jari, menarik rambut, dan mengupil bisa terjadi pada semua anak. Proses tumbuh kembang biasanya membuat anak gelisah. Mereka belajar menghadapi perubahan dalam lingkungan rumah, sekolah, pertemanan, dan situasi-situasi lain di luar kebiaaan, seperti perceraian, pertengkaran, pindah rumah, dsb.



Dalam teori perkembangan psikoseksual dari Sigmund Freud,  disebutkan sejak kelahiran sampai usia 1 tahun, anak memperoleh rasa nyaman dari stimulasi pada bagian oral/mulut. Lihat saja,  anak yang menangis akan diam ketika disusui atau diberi empeng. Ada juga anak yang baru bisa tidur setelah mengemut jari.Di usia ini, anak  suka sekali memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut. Selain memberi rasa nyaman, cara ini juga dipakai untuk mengenali segala benda di sekelilingnya.
Kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya saat anak menginjak usia 2-3 tahun. Namun, pada sebagian anak,  terbawa hingga mereka besar. Atau sempat hilang, kemudian muncul lagi karena dipicu beberapa situasi yang membuat anak merasa tidak nyaman, bosan, stres, lelah, ngantuk atau bahkan sekadar ingin tahu.
Pada masanya – dengan bantuan orang tua -- biasanya, kebiasaan itu juga akan hilang dengan sedirinya. Namun, ada juga yang terbawa hingga dewasa. Sebuah penelitian menyebutkan, sepertiga anak usia sekolah dasar, melakukan salah satu aktivitas menggigit kuku, mengisap jari, memilin rambut, dsb. Jumlahnya berkurang saat memasuki usia remaja menjadi setengahnya. Dan dari jumlah itu, hanya sebagian kecil yang terbawa hingga dewasa.
Penelitian di Amerika Serikat juga meyebutkan lebih dari 40% anak-anak usia lima sampai 18 tahun melakukan kebiasaan buruk tersebut. Ada yang dipicu ketidaknyamanan, ada juga yang melakukan karena pengaruh lingkungan dalam arti melihat contoh dari orang dewasa, khususnya kebiasaan mengupil di tempat umum.
Psikolog Anak, Vera Itabiliana, mengatakan biasanya kebiasaan itu berlanjut hingga dewasa lantaran orang tua terkesan membiarkan anak dengan kesenangannya itu.
Kapan Harus Khawatir?
Berbahayakah kebiasaan buruk itu? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Tidak berbahaya jika masih dilakukan dalam batasan normal. Meski demikian, bukan berarti dibiarkan saja. Tetap butuh pengarahan dari orang tua. Temukan penyebabnya, dan kemudian cari solusinya.
Menjadi berbahaya jika, dilakukan anak secara berlebihan. Misalnya, mngisap jari terus-menerus, tanpa peduli kondisi tangan kotor atau bersih. Menggigiti kuku meski sudah pendek, hingga berdarah. Secara fisik, bisa menyebabkan infeksi. Secara psikologis, anak butuh pertolongan karena tidak mampu mengendalikan kebiasaannya.
Jangan Marah!
Satu hal yang perlu diingat orang tua ialah jangan terus marah saat mendapati anak melakukan kebiasaan buruk. Sadari bahwa anak melakukan hal tersebut karena dorongan bawah sadar. Saat ada gangguan, biasanya secara otomatis mereka mula menggigit kuku, bolpen, mengisap tangan, menarik rambut, menggemeretakkan gigi, dll.Karena itu, percuma saja Anda marah.
Cari Tahu Penyebabnya
Dari pada marah, cari tahu penyebabnya.Vera Itabiliana menyarankan orang tua untuk mencermati kapan saja kebiasaan tersebut muncul. Jika pada saat anak cemas, maka anak perlu dibantu untuk mengatasi kecemasannya. “Pahami apa sumber stres atau kecemasan pada anak, dan atasi sumber kecemasan tersebut. Bantu anak supaya dapat memahami dan tidak lagi melihat sumber kecemasan sebagai ancaman.”
Langkah tambahan menurut Vera bisa dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian anak. Misalnya diajak bermain, menonton, mengobrol, dll. “Tapi pengalihan ini sifatnya hanya sementara. Orang tua harus tahu apa penyebabnya, sehingga bisa disusun langkah untuk mengatasi,” katanya.
Beri Pengertian
Beri pengertian bahwa apa yang dilakukan bisa membahayakan. Tangan yang kotor masuk ke mulut bisa menjadi sumber penyakit. Menggigiti kuku bisa menjadi medium masuknya kuman, bahkan bisa membuat orang keracunan timah. Jelaskan pula secara ilmiah, misalnya, ada penelitian yang menyebutkan, keracunan timah bisa mengganggu tumbuh kembang, bahkan intelegensi anak.
Gunakan bahasa yang mudah dimengerti. Anak-anak biasanya akan mencerna, dan berdasarkan perjanjian dan diskusi dengan orang tua, secara perlahan bisa meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Di sini yang terpenting, orang tua jangan pernah bosan memberitahu.
 Solusi Alternatif
Untuk membantu mengatasi kebiasaan buruk seperti menggigit kuku dan mengisap jari, ada  produk-produk tertentu yang bisa digunakan. Namun, biasanya dokter tidak menyarankan karena mengkhawatirkan kandungan dari produk tersebut.
Misalnya, produk kutek atau produk oles lain dengan rasa pahit yang sengaja dibuat supaya anak kapok alias tidak mau lagi melakukan kebiasaan buruknya.
Atau bisa juga menggunakan bahan natural untuk olesan, seperti dedaunan yang biasa digunakan untuk membuat jamu dengan rasa pahit.
Soal solusi alternatif ini, semuanya kembali diserahkan pada orang tua. Sebelum memutuskan, sebaiknya Anda menyelidiki terlebih dahulu kandungan bahan dalam produk tersebut atau konsultasikan dengan dokter.
                     
Bantuan Profesional
Bila langkah-langkah tersebut sudah dilakukan, tapi kebiasaan anak tidak hilang bahkan semakin parah, saatnya Anda mencari bantuan professional. Menggigit kuku sampai berdarah, tidak mau mengeluarkan jari dari mulut, mengisap jari sampai bengkak atau mengecil, menarik rambut hingga rontok, jelas tidak hanya berbahaya secara fisik, tetapi menunjukkan adanya beban psikologis yang harus segera diatasi. Saat itulah Anda perlu memikirkan bantuan  profesional seperti psikolog.

TIPS
Lakukan
1. Penanganan untuk  batita,tiap gigit kuku, raih tangannya,  usap-usap, making eye-contact. Ajak ngobrol yang menenangkn.
2. Setelah itu iringi kegiatan bermain.
3. Jika harus menggunakan alat bantu. Pakailah barang-barang yang  aman dari sisi kesehatan dan kenyamanan.
Jangan Dilakukan
1. Jangan biarkan kebiasaan ini terlanjur menjadi kesenangan pada diri anak untuk menutupi rasa cemasnya.
2. Hindari perlakuan terlalu keras untuk menyikapi kebiasaan ini meski tujuannya adalah supaya anak tidak melakukannya lagi.
3. Perlakuan yang terlalu keras justru akan membuat anak semakin cemas dan meningkatkan intensitas kebiasaan ini.

Beratnya Liburan bagi Anak Korban Perceraian



 PERCERAIAN jelas bisa membawa masa sulit bagi anak-anak. Namun menghadapi liburan setelah kedua orangtuanya bercerai bisa menjadi masa yang lebih sulit lagi.
Ketika waktu libur sekolah tiba, anak-anak yang kedua orangtuanya sudah bercerai harus menghadapi beberapa kenyataan sulit. Pertama, mereka tidak lagi melakukan libur bersama kedua orangtuanya, kedua dan terkadang situasinya menjadi berat, karena mereka harus bolak-balik, membagi waktu berlibur dengan ayah dan waktu berlibur dengan ibu. 
Terkadang mereka menjadi tertekan karena harus menjaga perasaan kedua orangtuanya dan harus bersikap adil agar mereka tidak tersinggung. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak-anak melewati masa sulit tersebut?

1. Situs parentingnewsdaily.com meminta orangtua  mempertimbangkan psikologi anak, jangan menambah beban dengan  bertengkar dan bersaing untuk mendapatkan perhatian buah hati.
2. Jangan pula mengucapkan kata-kata menyelidik bahkan menyalahkan mantan pasangan masing-masing pada anak. Jika itu terjadi, mereka akan semakin bingung, tertekan, dan akhirnya memungkinkan munculnya dampak negatif.
3. Sebaiknya masing-masing fokus untuk menciptakan liburan yang indah bagi sang buah hati. Sebuah artikel di  The Washington Post yang ditulis Janice D’Arcy s mengusulkan agar pasangan yang bercerai  menerapkan metode Co-Parenting. Artinya bekerjasamalah, singkirkan ego masing-masing demi anak.
4. Edward Farber, psikolog dan penulis buku dari George Washington University School of Medicine mengngatkan ayah dan ibu untuk menjaga fokus hanya pada anak, bukan pada kebencian terhadap mantan pasangan masing-masing.
5. Dewasalah!  Jadilah fleksibel, sensitif, dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak.

Ajari Anak Mengatur Keuangan Sejak Dini



SERING kali kita mendengar ada anak yang begitu mudah meminta uang pada orangtua dan mengeluarkan uang untuk jajan tanpa pikir panjang. Seringkali kita juga mendengar keluhan istri atau pun suami tentang pasangan hidupnya yang begitu boros, tidak pandai mengatur keuangan keluarga, dsb.

Semua keluhan itu bisa dijadikan pelajaran. Berbagai penelitian membuktikan, betapa penting mengajar anak mengelola keuangan sejak dini. Namun, sebelum itu ayah dan bunda sebagai orangtua harus terlebih dahulu memberi contoh. Akan sulit bagi anak-anak untuk belajar mengelola keuangan jika mereka melihat orangtuanya sendiri tidak yakin bagaimana cara mengelola keuangan mereka.

Terlepas dari itu, Debbie Naga melalui US News menyebutkan bahwa salah satu tindakan nyata yang perlu diperkenalkan pada anak ialah adanya rekening bank. Dengan menabung di bank, anak dengan sendirinya akan belajar bagaimana menyimpan uang dan akan menjadi lebih hati-hati saat akan membelanjakan uang mereka.
Tindakan yang tidak kalah penting adalah memilih bank yang memberi manfaat terbaik bagi buah hati. Artinya, apa yang Anda ajarkan sekarang tidak akan berhenti satu atau dua tahun, tapi akan terus berlangsung hingga putra-putri kita dewasa. Karena itu, sebagai orangtua ang bertanggungjawab, lakukan survey baru kemudian memilih bank yang kredibel dan memberi manfaat terbaik.
Setujukah ayah dan bunda dengan pendapat ini?

Mainan untuk Bayi dan Balita


 
AYAH dan Bunda tentu harus lebih hati-hati ketika memilih mainan untuk bayi dan balta. Maklum di usia tersebut, anak-anak terkadang belum mengerti konsep bahaya. Berikut beberapa pedoman memilih mainan dari kidshealth.org.

1. Ukuran mainan harus cukup besar, setidaknya dengan diameter 3 cm dan panjang minimal 6 cm. Ukuran mainan penting diperhatikan agar tidak tertelan, karena bayi dan balita kerap memasukkan mainan ke mulut.

2. Hindari memberikan kelereng dan koin untuk mainan. Andai memberikan bola, minimal dengan diameter lebih dari 4 cm.
3. Pastikan mainan yang menggunakan baterai, memiliki tempat baterai yang tidak mudah dibuka. Lebih aman lagi jika baterai di dalam wadah dengan pengaman sekrup. Bahan kimia di dalam baterai beracun, sehingga bisa memunculkan risiko serius.
4. Pastikan mainan untuk bayi dan balita cukup kuat menahan kunyahan dan tidak mudah dipecahkan. Pastikan tidak ada ujung yang runcing dan jangan ada celah sempit yang bisa membuat jari anak-anak terjepit.
    
5. Jika membeli mainan seperti kuda-kudaan yang bisa digoyang maju mundur, pastikan dudukannya stabil untuk menghindari mainan terguling.

5 Manfaat Kasih Sayang Ibu Bagi Kesehatan Anak



Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 5 Manfaat Kasih Sayang Ibu Bagi Kesehatan Anak - Ada ungkapan kasih ibu sepanjang masa, ternyata hal ini bukan hanya isapan jempol belaka. Karena manfaat kasih sayang ibu bagi kesehatan mulai dari perkembangan otak hingga kehidupan seks.
"Hubungan pertama si anak adalah dengan ibu yang bisa mempengaruhi hubungan emosional di kemudian hari," ujar profesor dan psikiater Allan Schore, PhD dari UCLA, seperti dikutip dari Everyday, Sabtu (22/12/2012).
Penelitian mendukung teori ini, studi terbaru menunjukkan ikatan antara ibu dan anak bisa mempengaruhi otak, jantung, tubuh dan bahkan kehidupan seks seseorang. Ini dia manfaatnya:
1. Bisa menjadi nutrisi bagi otak
Kasih sayang ibu tidak hanya baik untuk jantung dan jiwa, tapi juga nutrisi bagi otak. Peneliti di Washington University School of Medicine melakukan scan terhadap anak usia 7-10 tahun. Didapatkan anak yang mendapatkan asuhan dan dukungan dari ibu memiliki bagian otak hippocampus yang lebih besar dibanding anak yang kurang mendapat kasih sayang.
Hippocampus adalah daerah otak yang terlibat dalam memori dan pembelajaran, serta menjadi kunci perkembangan masa kanak-kanak dan juga prestasi akademisnya di sekolah.
Sedangkan bagi si ibu, kasih sayang yang diberikan pada anaknya membuat otaknya juga bertambah besar selama baru menjadi ibu, terutama di daerah yang berhubungan dengan kesenangan, penilaian, penalaran dan perencanaan.
2. Lebih sehat saat usia setengah baya
Orang-orang dengan ibu yang sangat mencintai dan mengasuh dengan tulus membuatnya berisiko lebih rendah terkena penyakit sindrom metabolik seperti diabetes tipe 2. Para peneliti berspekulasi, hal ini berhubungan dengan tingkat stres yang lebih rendah saat mendapat kasih sayang ibu sehingga risiko terjadi peradangan dan sensitivitas insulin juga menurun.
3. Menurunkan risiko obesitas
Studi dari Ohio State University menemukan ikatan emosional yang lemah antara ibu dan anak dikaitkan dengan kemungkinan anak memiliki kelebihan berat badan di kemudian hari. Bahkan dalam studi ini lebih dari 25 persen balita obesitas saat remaja karena memiliki hubungan yang buruk dengan ibunya.
Peneliti mengatakan area di otak yang mengontrol emosi dan stres turut membantu mengontrol nafsu makan dan keseimbangan energi, sehingga mengurangi risiko makan berlebih.
4. Memiliki kehidupan seks yang sehat
Penelitian menemukan ibu turut membantu mensosialisasikan anak-anaknya terhadap tanggung jawab seksual, sehingga bisa membantu anak memiliki pandangan yang tepat mengenai seks. Serta gadis yang memiliki ikatan emosional kuat dengan ibunya cenderung memiliki kehidupan seks yang lebih baik.
5. Hubungan romantis yang lebih stabil
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science mengungkapkan anak yang mendapatkan kasih sayang dan dukungan yang kurang dari orang tua terutama ibu cenderung memiliki hubungan romantis yang tidak stabil.
Meski begitu hasil ini bukanlah sebab akibat, karena itu bukan berarti jika tidak memiliki hubungan yang sehat dengan ibu, ia tidak akan memiliki hubungan yang baik dengan pasangan. - 5 Manfaat Kasih Sayang Ibu Bagi Kesehatan Anak.

sumber : http://kesehatanibu-anak.blogspot.com/2012/09/menyusui-menjadikan-payudara-tetap-sehat.html

5 Jenis Makanan Yang Baik Untuk Perkembangan Otak Anak



Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 5 Jenis Makanan Yang Baik Untuk Perkembangan Otak Anak - Masa pertumbuhan adalah masa yang tepat untuk memaksimalkan kemampuan otak anak. Untuk mendukungnya, berikanlah nutrisi sehat yang bisa menjadi makanan otak.
Makanan otak dapat meningkatkan memori dan keterampilan, sehingga membuat anak lebih mahir dalam menghafal atau mengingat sesuatu.
Berikut nutrisi yang bisa jadi makanan otak untuk anak, seperti dilansir boldsky, Selasa (12/6/2012):
1. Produk susu
Susu dan produk susu lainnya merupakan sumber yang kaya protein, kalsium, kalium dan vitamin D. Semua nutrisi penting ini adalah sumber kunci untuk pengembangan sistem neuromuskuler, neurotransmiter, enzim dan jaringan otak. Anak-anak dan orang dalam kelompok usia remaja yang sedang dalam tahap tumbuh juga membutuhkan nutrisi ini.
2. Semua jenis buah berry
Stroberi, ceri, blueberry dan blackberry dikenal sebagai 'brainberries' karena buah-buah ini menyediakan hampir semua nutrisi penting untuk otak. Buah berri merupakan sumber antioksidan dan vitamin C yang membantu dalam mengurangi stres oksidatif.
3. Telur dan kacang
Kolin, salah satu unsur penting lain untuk perkembangan sel-sel batang memori yang dapat ditemukan dalam telur dan kacang. Kolin dapat meningkatkan produksi sel induk memori di otak, juga meminimalkan kelelahan. Selain itu, kacang-kacangan dan biji-bijian merupakan sumber vitamin D, yang mampu mengurangi penurunan fungsi kognitif.
4. Gandum utuh
Vitamin B dan glukosa yang ditemukan dalam biji-bijian seperti oat meal dan beras merah, sehingga membuatnya menjadi makanan otak yang sehat untuk anak. Tubuh membutuhkan pasokan reguler dari glukosa yang disediakan oleh biji-bijian. Vitamin B meningkatkan aliran darah sistem saraf yang merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga semua organ tubuh untuk aktif, termasuk otak.
5. Salmon
Ikan dengan tingkat lemak tinggi seperti salmon merupakan sumber yang kaya asam lemak omega-3 seperti DHA dan EPA. Ini adalah nutrisi penting untuk pengembangan otak yang tepat. Penelitian membuktikan bahwa orang yang mengonsumsi ikan memiliki memori lebih tajam daripada yang tidak. - 5 Jenis Makanan Yang Baik Untuk Perkembangan Otak Anak.

Sumber : http://kesehatanibu-anak.blogspot.com/2012/06/5-jenis-makanan-yang-baik-untuk.html

Tips Dan Posisi Tidur Untuk Ibu Hamil



Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak Tips dan Posisi Tidur Untuk Ibu Hamil - Tidur bagi ibu hamil merupakan sebuah kebutuhan. Adanya janin dalam perut memberikan ketegangan pada tubuh ibu, itu sebabnya ibu hamil cepat lelah dan membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak.
Tips dan posisi tidur untuk ibu hamil, agar perkembangan janin baik, seorang ibu harus memperhatikan kualitas maupun posisi tudur.

Berikut 10 tips yang perlu diperhatikan oleh ibu hamil seperti dikutip dari coolhealthtips, Kamis (29/3/2012) antara lain:


1. Perbanyak Istirahat
Selama masa kehamilan cobalah untuk beristirahat sebanyak mungkin dan cobalah untuk menambah jam tidur Anda.

2. Tetapkan Jam Malam
Tidur di jam yang sama setiap malam akan membiasakan tubuh memiliki jadwal khusus untuk beristirahat. Hal ini bagus untuk kesehatan ibu dan janin.

3. Tidur dengan Posisi Kepala dan Leher Terangkat.
Tips dan posisi tidur untuk ibu hamil, tidur dengan kepala dan leher diangkat dapat menurunkan asam lambung.

4. Hindari Mimpi Buruk
Pikiran yang penuh beban ketika pergi tidur kadang akan terbawa sampai ke mimpi. Untuk menghindari mimpi buruk, berbagilah dengan pasangan mengenai masalah dan ketakutan Anda dan hindari makan malam yang terlalu banyak.

5. Gunakan Bantal Tambahan
Pada trimester pertama kehamilan, Anda dapat menggunakan bantal tambahan antara lutut atau di bawah perut agar badan lebih nyaman ketika tidur.

6. Pakailah Bantal Panjang
Anda akan dapat menikmati tidur yang lebih baik pada trimester kedua kehamilan dengan menempatkan bantal di antara kedua lutut dan bantal yang memanjang dari punggung hingga perut.

7. Tidur Miring ke Kiri
Pada trimester ketiga, cobalah untuk tidur miring ke kiri sehingga sirkulasi darah dapat ditingkatkan ke arah rahim, janin dan ginjal. Sirkulasi darah pada jantung juga dapat ditingkatkan dengan cara ini.

8. Lakukan Aktivitas Kecil
Memasuki trimester ketiga, ibu hamil kadang tidak bisa tidur di malam hari. Lakukan beberapa kegiatan seperti menonton TV dan mendengarkan musik sebelum Anda mencoba untuk tidur kembali.

9. Atasi Kram Kaki
ibu hamil kadang mengalami kram di kaki, untuk mengatasinya luruskan kaki dan gerak-gerakkan kaki Anda ke atas ketika sedang berbaring di tempat tidur.

Masa kehamilan menuntut ibu untuk lebih banyak beristirahat dan tidak stres karena hal ini akan menjamin pertumbuhan janin yang sehat. Hindarilah melakukan pekerjaan yang berat, olah raga yang teratur dan makan makanan yang bergizi - Tips dan Posisi Tidur Untuk Ibu Hamil.

Sumber : http://kesehatanibu-anak.blogspot.com/2012/04/tips-posisi-tidur-untuk-ibu-hamil.html

Bolehkah Ibu Flu Tetap Menyusui?


BISA menyusui buah hati merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu. Namun, terkadang muncul keraguan saat daya tahan tubuh menurun hingga ibu terserang flu/salesma. Mulailah muncul berbagai pertanyaan, apakah ibu yang terserang flu tetap boleh menyusui? Bagaimana jika buah hati tercinta tertular? Obat apa yang bisa diminum dan aman untuk bayi? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin menggelisahkan hati bunda.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Free Magazine Sang Buah Hati melakukan wawancara dengan dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC. Semoga jawaban-jawaban yang diberikan bisa menenangkan dan menambah pengetahuan bunda. Berikut kutipan wawancaranya.

Foto:  www.i-reckon.com.au
Apakah ibu menyusui yang terserang flu tetap bisa menyusui?
Secara medis, sebenarnya sedikit sekali kondisi ibu yang benar-benar tidak bisa melanjutkan kegiatan menyusui saat sakit. Hanya ibu dengan infeksi HIV dan HTLV yang dibolehkan tidak menyusui bayinya. Ibu dalam kondisi sakit parah yang memerlukan perawatan intensif, mungkin dianjurkan menghentikan kegiatan menyusui untuk sementara hingga kondisinya pulih.
Ibu yang terserang flu (istilah yang lebih tepat adalah selesma atau common cold) tetap bisa menyusui sang buah hati secara langsung seperti biasa.
Tidakkah virus salesma bisa menular pada buah hati?
Dengan menyusui, maka antibodi yang dibentuk tubuh ibu untuk melawan virus salesma akan ditransfer kepada bayi melalui ASI, bahkan sebelum ibu mengalami gejala flu. Transfer antibodi memberi keuntungan bagi bayi. Dia akan memiliki kekebalan alami dari ASI. Bila kemudian tertular, tubuhnya sudah dipersiapkan oleh antibodi yang terkadung di dalam ASI. Hal ini tidak mungkin diperoleh jika bayi tidak disusui.
Tindakan apa yg harus dilakukan agar buah hati tidak tertular?
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi penularan. Di antaranya selalu mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, memakai masker agar percikan ludah saat batuk atau bersin tidak terpapar ke bayi, menghindari kontak wajah dengan bayi, dsb.
Sebaiknya menidurkan bayi di samping ibu, agar ibu dapat menyusui dengan mudah dalam posisi tidur menyamping. Posisi seperti itu akan sangat membantu  ibu agar cukup beristirahat.
Apa yang harus dilakukan ibu agar cepa sembuh dari flu?
 Flu (selesma/common cold) disebabkan oleh virus yang sifatnya self limiting disease. Keluhan dan gejala akan membaik spontan dalam 7-14 hari. Disarankan untuk istirahat cukup, banyak minum air hangat, berjemur matahari pagi, mandi air hangat, tetes hidung salin dan terapi uap dengan peppermint atau eucalyptus oil. Tindakan-tindakan itu pada umumnya cukup membantu kenyamanan ibu selama terserang flu. Dianjurkan juga untuk mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Namun, adakalanya ibu memerlukan obat untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat demam, sakit kepala, hidung mampet, pilek dan batuk.
Obat flu apa yang aman dikonsumsi ibu menyusui?
Beberapa obat flu over the counter (OTC) yang dijual bebas dapat dikonsumsi ibu menyusui dengan aman. Jenis obat yang tergolong aman untuk ibu menyusui adalah pereda nyeri/demam (parasetamol, ibuprofen), pelega hidung (natrium kromlin), anti alergi (loratadin, tripolidin) dan obat pereda batuk (dextromethorphan). Ibu menyusui sebaiknya menghindari obat flu yang mengandung pseudoephedrin atau phenylephrin, karena berisiko mengurangi produksi ASI.
Apakah ibu menyusui bisa tetap melakukan imunisasi flu?
Jika yang dimaksud flu adalah selesma/common cold, sayang sekali sampai saat ini belum tersedia vaksinnya. Yang biasa diberikan adalah vaksin influenza, yaitu pencegahan terhadap virus influenza penyebab flu burung, flu babi, dan sejenisnya. Tidak ada kontraindikasi bagi ibu menyusui untuk imunisasi, bisa dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan. 


BIODATA
dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC
Ibu 2 putri, dosen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta, mahasiswi program S3 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, konsultan laktasi RS Medistra & dokter anak BJ Medical Center, Central Park, Jakarta.