Jumat, 15 Februari 2013

Beratnya Liburan bagi Anak Korban Perceraian



 PERCERAIAN jelas bisa membawa masa sulit bagi anak-anak. Namun menghadapi liburan setelah kedua orangtuanya bercerai bisa menjadi masa yang lebih sulit lagi.
Ketika waktu libur sekolah tiba, anak-anak yang kedua orangtuanya sudah bercerai harus menghadapi beberapa kenyataan sulit. Pertama, mereka tidak lagi melakukan libur bersama kedua orangtuanya, kedua dan terkadang situasinya menjadi berat, karena mereka harus bolak-balik, membagi waktu berlibur dengan ayah dan waktu berlibur dengan ibu. 
Terkadang mereka menjadi tertekan karena harus menjaga perasaan kedua orangtuanya dan harus bersikap adil agar mereka tidak tersinggung. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak-anak melewati masa sulit tersebut?

1. Situs parentingnewsdaily.com meminta orangtua  mempertimbangkan psikologi anak, jangan menambah beban dengan  bertengkar dan bersaing untuk mendapatkan perhatian buah hati.
2. Jangan pula mengucapkan kata-kata menyelidik bahkan menyalahkan mantan pasangan masing-masing pada anak. Jika itu terjadi, mereka akan semakin bingung, tertekan, dan akhirnya memungkinkan munculnya dampak negatif.
3. Sebaiknya masing-masing fokus untuk menciptakan liburan yang indah bagi sang buah hati. Sebuah artikel di  The Washington Post yang ditulis Janice D’Arcy s mengusulkan agar pasangan yang bercerai  menerapkan metode Co-Parenting. Artinya bekerjasamalah, singkirkan ego masing-masing demi anak.
4. Edward Farber, psikolog dan penulis buku dari George Washington University School of Medicine mengngatkan ayah dan ibu untuk menjaga fokus hanya pada anak, bukan pada kebencian terhadap mantan pasangan masing-masing.
5. Dewasalah!  Jadilah fleksibel, sensitif, dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar