Jumat, 15 Februari 2013

Pola Asuh Tepat untuk Anak Kembar


Mempunyai buah hati kembar tentu menyenangkan. Namun, orangtua sebaiknya mengetahui pola asuh yang tepat agar si kembar tumbuh menjadi pribadi yang sehat.



MELIHAT anak kembar hampir selalu menggemaskan. Kehadiran mereka di mal dan pusat keramaian lain kerap menyedot perhatian. Apalagi orangtua sering membuat tampilan serupa, baik baju mau pun rambut bagi kembar sejenis. 
Namun, apakah bisa dibenarkan kebiasaan mendandani si kembar dengan pakaian dan gaya serupa? Direktur Lembaga Konsultasi Psikologi Daya Insani Sani Budiantini Hermawan Psi, mengatakan memperlakukan si kembar dengan cara yang sama tidak sepenuhnya  bisa dibenarkan. Jika selalu disamakan, mereka tidak bisa berkembang sebagai pribadi berbeda. “Padahal meski kembar, mereka adalah dua orang berbeda, punya keunikan dan kebutuhan sendiri-sendiri,” katanya.
Meski menyarankan untuk memperlakukan si kembar secara berbeda, namun Sani juga mengingatkan agar orangtua memberi ruang kebersamaan, karena ada kalanya mereka butuh waktu untuk berdua. “Harus dimaklumi, anak kembar biasanya memang punya ikatan kuat dan terkadang memiliki cara berkomunikasi sendiri yang tidak dimengerti orangtua.” Paparnya.
Pola Asuh Sehat
Kuatnya ikatan antara anak kembar juga dikemukakan Joan A Friedman PhD. Meski demikian, penulis buku Emotionally Healthy Twins  ini tetap menyarankan agar orangtua memperlakukan mereka sebagai individu bukan pasangan. 
Saran itu didasarkan pada pengalaman pribadi sebagai anak kembar dan orangtua anak kembar, diperkuat dengan berbagai penelitian yang sudah dilakukan.  Memperlakukan si kembar sebagai individu menurut Joan akan membuat merekar lebih bahagia dan sehat secara emosi. 
“Fakta dan penelitian membuktikan bahwa memberi kesempatan pada anak kembar untuk tumbuh menjadi pribadi masing-masing justru akan mengembangkan keintiman. Itu jauh lebih baik dibanding terus memperlakukan mereka sebagai satu kesatuan, sehingga justru memunculkan kedekatan yang melumpuhkan alias tidak sehat secara emosional,” papar Joan yang dikenal sebagai pelopor pendekatan baru pola asuh untuk anak kembar, ketika diwawancara doubleupbooks.com.
Perlu Kesadaran Orangtua
Dari pengalaman yang didapat sebagai konsultan, Joan kerap kali menjumpai keengganan, keraguan, bahkan kemarahan orangtua, ketika disarankan untuk memperlakukan si kembar sebagai individu berbeda. Sebagian orangtua merasa gagal jika anaki kembarnya terpisahkan, sebagian lagi merasa terancam eksistensi dari sebutan yang sudah disandang, yakni sebagai orangtua anak kembar. Akibatnya, saat buah hati kembar mereka ingin menjelajah menjadi individu berbeda, kerap kali dihinggapi perasaan bersalah yang bisa berkembang menjadi  frustasi dan kemarahan.
Itu sebabnya, orangtua sebaiknya membantu anak kembarnya dengan cara menciptakan ruang pertumbuhan individu. Misalnya, menghabiskan waktu sendirian dengan masing-masing kembar dan tidak  selalu memperlakukan serta membelikan sesuatu yang sama bagi mereka.
 “Cara ini juga akan membantu orangtua untuk menetralkan kekuatan dua anak kembar  yang pada dasarnya memang punya ikatan unik. Ikatan itu akan menjadi kekuatan, sehingga Kerap kali orangtua merasa ditinggalkan dan tidak dibutuhkan, bahkan merasa tidak berdaya mengendalikan anak kembarnya. Entah itu dalam penerapan disiplin atau apa pun. “
TIPS
  1. Agar si kembar tumbuh menjadi individu dengan pribadi sehat, orangtua disarankan jangan pernah melakukan perbandingan. Hubungan yang unik biasanya akan diikuti dengan sesitivitas.  Situs psychologytoday.com bahkan menyarankan agar orangtua lebih peka dengan tidak selalu menyebut urutan yang sama untuk anak kembarnya. Misalnya, saat menyebut nama si kembar A dan B, harus diimbangi dengan sebutan B dan A.
  1. Beri kebebasan memilih mainan apa yang hendak mereka lakukan. Misalkan salah satu ingin bermain balok susun dan satunya lagi ingin bermain jual beli, janganlah dicegah. Biarkan mereka melakukan hal tersebut tanpa pasangan kembarnya.
  1. Ikuti keinginan anak jika ingin dipisah, baik itu sekolah, kamar tidur, minat, hobi, dsb.
  1. Pola pengasuhan lebih diutamakan pada keunikan pribadi masing-masing.
  1. Mengembangkan minat dan bakat dan jangan sungkan untuk memberi apresiasi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar