ORANGTUA seringkali merasa jengkel karena buah hati malas belajar. Aktivitas belajar hanya dilakukan menjelang ulangan, ujian ataupun saat mengerjakan tugas. Apa yang harus dilakukan? Berikut beberapa kiat yang disodorkan para psikolog dari Proxima:
Ciptakan rutinitas belajar
Tentukan
jadwal belajar setiap harinya. Ayah/bunda dapat berdiskusi dengan anak mengenai
waktu yang akan digunakan sebagai waktu belajar, misalnya setiap malam usai
makan malam. Jadwal belajar dapat diubah dengan kesepakatan bersama, misalnya
saat liburan dilakukan penyesuaian dengan jadwal belajar yang lebih awal.
Libatkan anak dalam setiap pembuatan keputusan terutama terkait dengan
aktivitasnya.
Suasana belajar yang menyenangkan
Ciptakan
suasana belajar yang menyenangkan. Namun, jangan abaikan unsur keseriusan dan
konsentrasi. Ayah/bunda dapat menciptakan area belajar di ruangan khusus
ataupun dengan meja-kursi belajar. Anak perlu tahu bahwa sekalipun belajar di
rumah tetap harus dilakukan secara serius dan konsentrasi penuh. Matikan
televisi dan jauhkan mainan dari area belajar sehingga anak tidak terganggu.
Hal ini juga membantu orangtua untuk memberikan batasan antara kegiatan bermain
dan belajar. Anak akan belajar untuk menepati jadwal kegiatannya.
Pada
anak-anak yang memiliki masalah dalam hal konsentrasi, ayah/bunda dapat
melatihnya dengan menetapkan waktu belajar tertentu dan terus meningkatkan
batas waktunya. Misalnya, hari pertama anak diminta untuk mewarnai selama 5
menit. Setelah anak dapat menyelesaikannya tingkatkan batas waktunya secara
bertahap. Selingi kegiatan belajar dengan aktivitas lain yang disukai.
Kenali
hal-hal yang disukai anak untuk dapat menciptakan aktivitas belajar yang
menyenangkan. Misalnya anak yang sangat menyukai karakter dalam film The Cars.
Ayah/bunda dapat memanfaatkannya dengan mengajarkan anak untuk mengenal angka,
huruf, berhitung ataupun pengenalan kata dengan menyisipkannya pada gambar The
Cars. Permainan tebak gambar dan menyusun puzzle juga umumnya disukai anak
sebagai aktivitas belajar. Suasana belajar yang menyenangkan akan membangun
semangat belajar dan persepsi belajar yang menyenangkan pada anak.
Tantangan dan apresiasi
Ciptakan
tantangan sehingga suasana belajar menjadi lebih menarik. Tantangan dapat
dilakukan dengan meminta anak menyelesaikan sejumlah tugas / soal atau melalui
aktivitas seperti mencari jejak. Ayah/bunda perlu mengukur sejauh mana anak
dapat menyelesaikan tugas yang diminta sehingga tugas tidak terlalu sulit
ataupun terlalu mudah. Pada anak dengan masalah konsentrasi, pecah-pecah tugas
menjadi lebih kecil sehingga anak tidak cepat merasa bosan.
Kegiatan
tantangan dapat dilakukan satu minggu sekali sebagai variasi dari kegiatan
belajar. Jangan lupa hargai dan beri apresiasi atas setiap hasil belajar yang
didapatkan anak. Lihatlah setiap pencapaian dari sisi positif, lakukan dengan
kalimat yang juga positif. Misalnya, “Hebat, hari ini sudah dapat nilai 7,
besok kamu pasti bisa lebih hebat.”
Konsistensi aturan dan teladan
Konsistensi
aturan dan teladan menjadi hal penting untuk membangun kebiasaan. Ayah/bunda
perlu bersepakat mengenai aturan belajar yang ingin ditetapkan. Teladan
ayah/bunda dapat diberikan misalnya dengan mendampingi anak belajar. Hindari
menonton TV atau main game saat ayah/bunda meminta anak-anak untuk belajar.
Selain akan mengganggu konsentrasinya juga akan membangkitkan rasa iri dan
tidak adil dengan penerapan aturan.
Dampingi anak saat belajar
Pendampingan
saat belajar bukan hanya akan membantu anak dalam belajar tetapi juga menjadi
bentuk dukungan emosional bagi anak. Kehadiran ayah/bunda saat belajar
menunjukkan kehadiran ayah/bunda secara fisik dan emosional bagi anak-anaknya.
Kegiatan ini juga dapat menjadi sarana bagi ayah/bunda untuk mengetahui sejauh
mana perkembangan belajar anak di sekolah. Mintalah anak untuk menceritakan hal
apa saja yang sudah dipelajarinya di sekolah serta kesulitan-kesulitan yang
dihadapinya. Cara ini juga dapat membangun komunikasi yang baik antara
ayah/bunda dan anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar