Pertanyaan:
SAYA ibu dari seorang anak, Yoshua, 9 tahun. Yoshua tumbuh
sehat dan lincah seperti anak-anak pada umumnya. Tapi ada satu hal yang kerap
mengganggu, dia seringkali mimisan. Dalam satu bulan bisa 2-4 kali mimisan.
Biasanya terjadi saat dia sedang bermain di bawah terik matahari.
Belakangan kami mulai khawatir, apakah mimisan yang dialami
Yoshua tidak berbahaya? Mengikuti saran orangtua (kakek dan nenek Yoshua), saat
mimisan terjadi, kami meminta Yoshua untuk mendongakkan kepala dan mengompres
dengan air dingin. Biasanya manjur, mimisan langsung berhenti.
Tapi itu tadi, kami sebagai orangtua mulai khawatir. Apa
sebenarnya penyebab mimisan? Apakah berbahaya? Sudah benarkah cara penanganan
yang kami lakukan? Terimakasih sebelumnya.
Ibrahim,
Makassar
Foto: wearechildrens.org
Jawaban:
Dear Ibrahim,
Mimisan atau istilah medisnya epistaksis, pada dasarnya
merupakan kondisi yang diakibatkan pecahnya jalinan pembuluh darah di bagian
dalam selaput lendir hidung. Sebagian kecil anak, sejak lahir ternyata
memiliki selaput lendir dan dinding pembuluh darah di bagian dalam
hidungnya tipis, rapuh dan sensitif. Hal inilah yang menyebabkan mudah terjadi
mimisan bila terpapar dengan faktor pencetusnya.
Beberapa faktor pencetus yang dapat menyebabkan mimisan
pada anak yang memang memiliki selaput lendir dan pembuluh darah hidung
tipis dan rapuh, yaitu:
1. Sering mengupil/mengorek-ngorek bagian dalam hidung
2. Kondisi cuaca yang ekstrem, misalnya cuaca
yang terlalu dingin/ kering ( mis: AC terlalu dingin) atau cuaca
yang terlalu panas ( misal, berjemur di bawah terik matahari)
3. Bersin atau mengeluarkan ingus terlalu keras
4. Pilek karena infeksi maupun alergi
5. Infeksi atau anak sedang demam tinggi
6. Trauma atau benturan/terpukul di daerah hidung
7. Stres fisik/kelelahan
8. Penyebab yang sangat jarang, yaitu: kemasukan benda
asing, kelainan pembekuan darah dan tumor di rongga hidung.
Bila anak anda mengalami mimisan, maka cara
mengatasi yang benar adalah sbb:
1. Jepit dan tekan cuping hidung yang berdarah
dengan menggunakan ibu jari atau jari telunjuk.
2. Anak tetap dapat bernapas dari lubang hidung yang tidak
berdarah atau dari mulut.
3. Duduk dengan posisi sedikit condong ke depan dengan
kepala sedikit menunduk ke depan. Posisi duduk bersandar kebelakang atau
mendongak dapat menyebabkan darah mengalir ke tenggorokan, sehingga dapat
menyebabkan tersedak dan muntah atau darah masuk ke paru-paru.
4. Jepit hidung dalam posisi demikian selama
minimal 5 menit. Lepaskan untuk melihat apakah darah sudah berhenti mengalir.
Ulangi kembali jika perdarahan belum berhenti.
Pada umumnya mimisan tidak berbahaya, asalkan perdarahan
yang terjadi tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sering. Mimisan harus
segera diperiksakan ke dokter jika:
1. Perdarahan tidak dapat dihentikan dengan tindakan di
atas.
2. Jika perdarahan terjadi dengan cepat atau volume darah
yang keluar banyak.
3. Jika penderita merasa lemah atau pingsan, kemungkinan
akibat hilangnya darah yang signifikan.
4. Jika mimisan berhubungan dengan demam atau sakit kepala.
5. Jika mimisan terjadi setiap hari atau terlalu sering.
Pada umumnya gejala mimisan akan berhenti
sendiri pada saat usia semakin bertambah, biasanya saat remaja atau
menjelang dewasa. Karena seiring dengan bertambahnya usia, pertumbuhan selaput
lendir dan dinding pembuluh darah hidung juga semakin menebal dan kuat,
sehingga mimisan tidak terjadi lagi. ***
Catatan Redaksi: Pertanyaan serupa juga diajukan Ibu Hesti, Jakarta. Jawaban di bawah ini, sekaligus menjawab pertanyaan Ibu Hesti.
Rubrik ini diasuh oleh
dr Ferdy Limawal Spa
RS Omni Alam Sutera
sangbuahhati.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar