KURANG asupan air ternyata bisa memacu obesitas, penurunan daya ingat,
kemampuan kognitif, kewaspadaan, menjadi cepat lelah, bahkan bisa memunculkan
ketegangan, dan rasa cemas.
Apa hubungannya asupan air dan obesitas? Kurang air di dalam
tubuh ternyata erat kaitannya dengan obesitas. Pasalnya, air berperan besar
memperlancar metabolism tubuh. Air berfungsi sebagai bahan bakar untuk proses
pembakaran kalori dari makanan yang kita konsumsi. Penelitian menyebutkan,
konsumsi air yang cukup berperan menurunkan risiko obesitas hingga 30%.
Bukan hanya itu, air juga membantu proses pengeluaran racun
dari dalam tubuh. Semakin banyak racun yang tertumpuk, maka semakin sulit berat
badan diturunkan. Pencernaan yang tidak lancar juga akan menghambat penyerapan
nutrisi. Akibatnya, tubuh akan memberi tanda lapar.
Asupan air juga akan mempengaruhi fungsi hati atau lever
yang mengatur pelepasan lemak tubuh. Jika tubuh kekurangan air, maka hati cenderung
menimbun lemak.
Obesitas hanyalah satu dampak dari kurangnya asupan air ke
dalam tubuh. Riset yang sudah dipublikasikan di The Journal of Nutrition menyebutkan, selain mempengaruhi kerja
fisik, kekurangan air juga mempengaruhi mood
seseorang.
Pada anak, dehidrasi ringan kurang lebih ditandai dengan gejala yang sama. Sulit konsentrasi, mood terganggu, cepat lelah, dan berbagai gejala fisik lainnya. Pada orang dewasa, dehidrasi juga terbukti meningkatkan tekanan darah dan mengganggu kerja seluruh organ tubuh. Jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan pingsan bahkan kematian.
Kebutuhan
Air
![]() |
| Foto: fitsystemsatx.com |
Begitu besar peran air di dalam tubuh manusia, tidak mengherankan jika air dalam konsep tumpeng gizi seimbang yang direkomendasikan pada ahli gizi, mendapat porsi terbesar. Masalahnya, berapa banyak air yang dibutuhkan tubuh? Ahli Gizi dari Jogjakarta Andi Imam Arundhana SGz menjelaskan, air merupakan komponen terbesar di dalam tubuh. Sekitar 80% tubuh manusia mengandung air, 60% pada orang dewasa, dan 50% pada lansia.
Banyaknya air yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda
tergantung pada ukuran tubuh. Andi menjelaskan, angka kecukupan yang direkomendasikan adalah 2.200 ml/hari untuk
laki-laki dewasa, 2.000 ml/hari untuk wanita dewasa, 1.600 ml untuk anak usia
4-8 tahun dan 1.900-2.000 ml/hari untuk anak usia 9-13 tahun.
Air yang diminum, jelas Andi, tidak mesti air
putih. Minuman seperti teh, susu, kopi, dan air yang terkanding dalam
buah-buahan juga dihitung sebagai asupan. Hanya saja, air putihlah yang
dianggap terbaik, karena mudah diserap tubuh. “Karena itu, orang yang sering
mengonsumsi pil, tablet, obat, dan multivitamin, sangat dianjurkan memperbanyak
minum air putih, agar bahan kimia yang terkandung dalam obat/multivitamin dapat
ikut larut dan keluar bersama air seni. Jika tidak, maka risiko terkena batu
ginjal akan lebih tinggi,” papar Andi.
Kekurangan asupan air memang berbahaya. Namun,
Andi mengingatkan agar jangan lantas minum air putih berlebihan. Asupan air
yang melebihi batas normal pun tidak baik, karena berisiko menyebabkan
pembengkakan jantung dan otak.
Nah bunda, yuuk mulai perhatikan asupan air di
dalam keluarga. Biasakan juga buah hati minum air putih. Ketika diare dan flu, jangan
lupa untuk menambah porsi asupan.
Foto: parentsforhealth.org


Tidak ada komentar:
Posting Komentar